Penulis : Arfa Elysia Ahsan
Jatinangor – Serangan lalat buah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi petani hortikultura di Indonesia. Hama ini dapat menyebabkan kerusakan serius pada hasil panen, menurunkan kualitas buah, bahkan menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit. Melihat dampaknya yang signifikan, Prof. Dr. Agus Susanto, S.P., M.Si., dosen Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, tergerak untuk menciptakan solusi praktis yang bisa langsung diterapkan oleh petani.
Sebagai akademisi yang berfokus pada bidang proteksi tanaman, Prof. Agus telah lama menaruh perhatian pada pengendalian hama ramah lingkungan. Ia percaya bahwa pengendalian hama tidak harus selalu mengandalkan pestisida kimia, tetapi juga bisa dilakukan melalui inovasi alat mekanis yang efektif dan berkelanjutan. Dari gagasan tersebut lahirlah ide pengembangan alat perangkap lalat buah, sebuah inovasi yang dirancang khusus untuk membantu petani hortikultura menjaga kualitas dan kuantitas hasil panennya.
Alat perangkap ini berfungsi untuk meminimalisir hinggapan lalat buah, khususnya pada komoditas seperti mangga, jambu, dan sayuran. Mekanismenya sederhana: alat digantung di pohon, dan ketika lalat masuk, mereka akan terperangkap di dalamnya sehingga tidak dapat kembali ke lingkungan luar. Dengan desain yang mudah diaplikasikan dan biaya produksi yang terjangkau, inovasi ini menjadi alternatif pengendalian hama yang efisien sekaligus ramah lingkungan.
Perangkap Lalat Buah Inovatif Siap Diterapkan Petani
Dalam proses pengembangan produknya, Prof. Agus bekerja sama dengan pabrik Cipta Sinergi Mandiri (CSM) yang berlokasi di Cimahi untuk melakukan proses molding dan pencetakan alat. Kolaborasi ini memungkinkan desain yang lebih presisi dan hasil produksi yang tahan terhadap kondisi lapangan. Selain versi utama, Prof. Agus dan tim juga mengembangkan model perangkap berbentuk delta dengan sticky trap lembaran yang mampu menangkap lalat buah dengan efektivitas lebih tinggi.
Seluruh proses ideasi dan pengujian dikembangkan langsung oleh Prof. Agus bersama tim desain di bawah pendanaan hibah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti). Desain alat dibuat menyesuaikan kebutuhan petani di lapangan, dengan memperhatikan aspek kemudahan pemasangan, daya tahan bahan, serta efektivitas terhadap berbagai jenis hama. Setelah melalui serangkaian uji lapang, alat ini kini telah diproduksi secara massal dan dapat digunakan pada berbagai komoditas buah dan sayuran di Indonesia.
Melalui inovasi ini, Prof. Agus berharap perangkap lalat buah ciptaannya dapat menjadi solusi nyata bagi petani untuk menekan serangan hama tanpa merusak ekosistem. “Kami ingin hasil riset ini benar-benar bermanfaat, bukan hanya di laboratorium, tapi juga di kebun petani,” ujarnya. Ke depan, kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri diharapkan dapat memperkuat transfer teknologi dari kampus ke masyarakat, serta mempertegas peran Unpad dalam menghadirkan inovasi yang berdaya guna bagi kemajuan pertanian Indonesia.


