Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Padjadjaran (Unpad) menggelar Forum Group Discussion lintas ilmu pada Jumat, 27 Februari bekerja sama dengan University of Tsukuba dan SMK PPN Tanjungsari. Acara tersebut mempertemukan siswa SMK PPN Tanjungsari, anggota Laboratorium Bioproduksi dan Mesin dari University of Tsukuba, serta mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk mengeksplorasi bagaimana kereta cepat ‘Whoosh’ dapat mengubah masa depan Bandung dan Jatinangor.

Dengan tema “Imagining the Future”, diskusi mendorong peserta muda merefleksikan potensi transformatif kereta ‘Whoosh’. Mereka mengkaji kemungkinan perubahan gaya hidup, pembangunan perkotaan, dan aspirasi generasi muda, sekaligus mengidentifikasi tantangan saat ini, peluang yang muncul, dan solusi yang dapat ditindaklanjuti.

Peserta dibagi menjadi empat kelompok, dengan mahasiswa Universitas Padjadjaran memfasilitasi komunikasi lintas budaya dan memandu proses diskusi. Setiap kelompok mengembangkan ide secara kolaboratif, melakukan visualisasi di papan tulis, dan mempresentasikan wawasan mereka kepada peserta lain untuk saling bertukar pendapat secara aktif.

Diskusi mengungkapkan perspektif yang beragam dan berorientasi ke depan. Beberapa kelompok menekankan transformasi ekonomi, mengusulkan pengembangan Padalarang dan Gedebage sebagai pusat komersial baru, serta perluasan agrowisata di kawasan Jatinangor–Tanjungsari. Kelompok lain menyoroti perlunya meningkatkan aksesibilitas melalui reaktivasi jalur kereta di Jatinangor–Tanjungsari dan integrasi sistem transportasi umum, terinspirasi dari jaringan transportasi publik Jepang yang efisien.

Peserta juga mengusulkan solusi inklusif dan inovatif, seperti gerbong kereta khusus untuk petani dan tarif subsidi bagi pelajar, guna mengatasi masalah keterjangkauan saat ini dan memastikan akses transportasi yang lebih luas.

Salah satu peserta siswa mengungkapkan kegembiraan dan antusiasnya atas kesempatan pertukaran lintas budaya bahwa : “Saya sangat senang bertemu dan berdiskusi dengan mahasiswa dari Jepang. Ini pengalaman berharga bagi saya, bukan hanya untuk bertukar ide tetapi juga belajar perspektif yang berbeda.”

Kegiatan ini menegaskan pentingnya dialog partisipatif dalam menangkap beragam imajinasi anak muda untuk membentuk visi masa depan. Dengan memperkuat suara generasi muda, FGD menyoroti komitmen bersama untuk mengembangkan Bandung dan Jatinangor menjadi komunitas yang inklusif, inovatif, dan berkelanjutan di era ‘Whoosh’.

Kegiatan ini secara langsung mendukung pencapaian beberapa poin dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Pertama, inisiatif pertemuan ini sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pertukaran ilmu lintas budaya yang memperluas wawasan generasi muda. Kedua, diskusi mengenai integrasi kereta cepat dan transportasi umum mencerminkan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) serta SDG 11 (Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan), karena berupaya menciptakan sistem mobilitas yang efisien dan ramah lingkungan. Selain itu, usulan mengenai gerbong petani dan agrowisata mendukung SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan cara memberdayakan potensi lokal. Terakhir, kolaborasi antara universitas dalam dan luar negeri ini merupakan wujud nyata dari SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), yang membuktikan bahwa solusi masa depan yang inovatif hanya bisa lahir dari kerja sama yang inklusif dan partisipatif.

en_USEnglish