Penulis: Arfa Elysia Ahsan

Dalam menghadapi dinamika pembangunan di negara berkembang, penguatan ekosistem inovasi menjadi pondasi penting agar sektor pertanian mampu bertransformasi dan memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Di tengah kebutuhan tersebut, kemitraan antara industri dan perguruan tinggi menjadi elemen strategis yang mendorong lahirnya inovasi yang relevan, berkelanjutan, dan berdampak langsung. Salah satu sosok akademisi yang aktif mendorong penguatan kerja sama peneliti Unpad dan mitra industrinya ini adalah Dr. Sulistyodewi Nur Wiyono, SP., MP., dosen Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Faperta Unpad, yang melalui riset dan gagasannya berupaya memperkuat kontribusi ilmu pengetahuan Indonesia di tingkat global. 

Pada ajang GHEF 2025 – ORAL Presentation Awards, bagian dari rangkaian Global Higher Education Forum (GHEF) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia, beliau berhasil meraih Bronze Award dalam kategori Best Paper Presenter. Forum internasional yang berlangsung pada 4–6 November 2025 di Putrajaya International Convention Center (PICC) Malaysia ini diikuti oleh delegasi perguruan tinggi dari berbagai negara.

Festival IDEA Ministry of Higher Education Malaysia merupakan kegiatan tahunan yang melibatkan mahasiswa di seluruh universitas Malaysia serta peserta internasional non-mahasiswa melalui pameran, seminar, dan konferensi internasional yang menampilkan berbagai inovasi hasil riset dengan tema “Forging AI Horizon in Higher Education”. Acara dibuka dengan kehadiran pemerintah, perwakilan kerajaan Malaysia, kalangan industri, serta sambutan dari Sekretaris Jenderal ASEAN. Selama tiga hari, peserta disuguhkan beragam karya inovatif mulai dari robotik, AI (Artificial Intelligence), hingga produk hasil riset universitas.

Dr. Sulistyodewi Nur Wiyono, SP., MP. beserta tim riset yang diketuai Hesty Nurul Utami, Ph.D.  turut berpartisipasi sebagai pemakalah dalam forum The 9th Global Higher Education Forum 2025 yang menjadi bagian dari Festival IDEA Malaysia tersebut. Setelah melalui proses seleksi abstrak, keduanya dinyatakan lolos dan tampil pada sesi presentasi yang terbagi dalam sepuluh ruangan paralel yang dilakukan dalam 2 sesi (2 hari) dengan total peserta sekitar dua ratus peneliti. Dr. Sulistyodewi tampil pada subtema University-Industry Partnerships, sementara Dr. Hesty memaparkan riset pada subtema Digital Economy Transformation.

Paper yang dipresentasikan Dr. Sulistyodewi mengangkat topik pengembangan ekosistem inovasi di negara berkembang, dengan tujuan mendiseminasikan hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2025 ini. Kontribusi ini menjadi bagian dari upaya memperluas eksposur riset Unpad pada tingkat internasional.

Melalui presentasinya, Dr. Sulistyodewi berhasil memperoleh Bronze Award, sementara penghargaan Golden dan Silver dianugerahkan kepada perwakilan universitas dari Malaysia. Pencapaian ini menunjukkan kemampuan peneliti Indonesia bersaing dalam forum ilmiah global yang diikuti institusi dengan infrastruktur riset kuat.

Salah satu tantangan penting adalah mengkomunikasikan keunggulan inovasi Unpad dan Indonesia sebagai negara berkembang secara efektif di tengah peserta dari negara maju yang memiliki dukungan riset dan inovasi yang lebih kuat. Tantangan ini sekaligus menjadi motivasi untuk memperlihatkan bahwa riset Indonesia memiliki potensi dan kualitas yang layak mendapatkan pengakuan internasional.

“Mengikuti acara GHEF 2025 ini merupakan momen yang sangat berkesan, mengingat keikutsertaan ini menjadi debut keduanya pada seminar internasional di luar negeri yang sekaligus menjadi momentum berharga ketika penghargaan pertama berhasil diraih.”, ungkap Dr. Sulistyodewi. Beliau juga berharap iklim inovasi di Indonesia, khususnya di Unpad, dapat semakin berkembang melalui kolaborasi yang lebih kuat antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah, sehingga mendorong terciptanya inovasi-inovasi yang mampu bersaing ditingkat global.

Prestasi dan topik riset yang dipresentasikan oleh Dr. Sulistyodewi memiliki korelasi yang kuat dengan beberapa Poin Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) atau Sustainable Development Goals, antara lain SDGs poin 9 mencakup Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui Topik penelitian Dr. Sulistyodewi yang berfokus pada pengembangan ekosistem inovasi dan penguatan kemitraan antara industri dan perguruan tinggi. Hal ini secara langsung sejalan dengan kegiatan peningkatan penelitian ilmiah, peningkatan kapabilitas teknologi sektor industri di semua negara, dan memfasilitasi pengembangan teknologi, inovasi, dan diversifikasi industri. Keikutsertaan Dr. Sulistyodewi dalam forum internasional seperti GHEF 2025 dan meraih penghargaan mencerminkan kualitas pendidikan dan penelitian yang dihasilkan oleh Unpad. Ini mendukung tujuan SDG 4 untuk menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata serta meningkatkan peluang belajar seumur hidup bagi semua, khususnya melalui kontribusi ilmu pengetahuan yang diakui secara global. Selain itu dari gagasan Dr. Sulistyodewi adalah pentingnya kerja sama yang kuat antara akademisi dan industri merupakan upaya beliau untuk memperkuat kontribusi ilmu pengetahuan Indonesia di tingkat global melalui riset dan kemitraan merupakan bentuk dari tujuan SDG 17 untuk menghidupkan kembali kemitraan global demi pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam hal berbagi pengetahuan dan kolaborasi antar pemangku kepentingan (universitas, industri, dan pemerintah).

en_USEnglish