Untitled-12
Tim PKM PI Unpad Kembangkan Smart Greenhouse Berbasis IoT untuk Tingkatkan Produktivitas Stroberi Putih di Ciwidey

Penulis: Syifa Djuita Putri

Jatinangor, 06 Agustus 2026 – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan Iptek (PKM-PI) Universitas Padjadjaran menghadirkan inovasi Snowberry Farm: Low-Cost Hybrid Smart Greenhouse Plant Factory 4 in 1, sebuah greenhouse berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang untuk membantu petani stroberi putih di Ciwidey meningkatkan produktivitas sekaligus keuntungan usaha.

Dibimbing oleh Ir. Yudithia Maxiselly., S.P., M.P., Ph.D., dosen Faperta Unpad, dan diketuai oleh Alifka Dina Hasanah (Agroteknologi 2024), tim ini beranggotakan mahasiswa lintas disiplin, yakni Marsya Kamila Putri (Teknologi Pangan 2024), Satriono (Agroteknologi 2024), Firaas Alfarisi Putra Surya (Akuntansi Perpajakan 2024), serta Nadia Amalia Nadzhiffa (Agribisnis 2025). Kolaborasi lintas bidang tersebut menjadi kekuatan utama dalam merancang solusi yang tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga pada aspek budidaya, pascapanen, hingga keberlanjutan usaha mitra.

Berbeda dengan skema PKM lain yang umumnya berangkat dari sebuah gagasan, PKM-PI menempatkan kebutuhan mitra sebagai titik awal inovasi. Tim terlebih dahulu melakukan identifikasi berbagai permasalahan yang dihadapi petani sebelum merancang solusi yang tepat.

“Kami tidak membawa ide yang sudah jadi untuk ditawarkan kepada mitra. Justru kami datang melihat permasalahan yang mereka hadapi, kemudian mencari solusi yang dapat meningkatkan profit mitra,” ujar Alifka.

Mitra yang didampingi merupakan petani stroberi putih di Ciwidey yang baru mulai membudidayakan varietas tersebut sekitar enam bulan sebelum program berlangsung. Meskipun memiliki nilai ekonomi tinggi, budidaya stroberi putih menghadapi tantangan besar akibat kondisi mikroklimat yang kurang mendukung. Curah hujan tinggi menyebabkan buah mudah membusuk sebelum dipanen sehingga menurunkan produktivitas dan mengurangi potensi pendapatan petani.

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim mengembangkan greenhouse tertutup yang dipadukan dengan teknologi IoT sehingga kondisi lingkungan di dalam greenhouse dapat dikendalikan secara lebih optimal. Sistem tersebut dilengkapi sensor suhu dan kelembapan udara (DHT22), sensor kelembapan tanah (soil moisture sensor), sensor intensitas cahaya (LDR), serta humidifier yang seluruhnya dapat dipantau melalui telepon pintar.

Selain mengurangi risiko kerusakan buah akibat hujan, sistem penyiraman otomatis juga membantu petani menghemat waktu dan tenaga dibandingkan dengan penyiraman manual yang sebelumnya dilakukan menggunakan selang.

Greenhouse yang dibangun memiliki luas sekitar enam meter persegi dan memanfaatkan sistem vertikultur sehingga kapasitas tanam meningkat secara signifikan. Pada luas lahan yang sama, greenhouse mampu menampung sekitar 200 tanaman dalam 100 polybag, lebih banyak dibandingkan dengan sistem budidaya konvensional di lahan terbuka.

Saat ini seluruh instalasi greenhouse dan sistem IoT telah selesai dipasang. Tim tengah melakukan tahap monitoring untuk membandingkan kualitas dan produktivitas buah stroberi yang ditanam di dalam greenhouse dengan tanaman yang dibudidayakan di lahan terbuka. Hasil pengamatan diharapkan dapat menunjukkan efektivitas teknologi dalam menciptakan mikroklimat yang lebih sesuai bagi pertumbuhan stroberi putih.

Keberlanjutan program juga menjadi perhatian utama tim. Selain melakukan pendampingan langsung kepada mitra, mereka menyusun buku panduan operasional yang menjelaskan penggunaan setiap fitur greenhouse, prosedur perawatan, hingga langkah-langkah penanganan apabila terjadi kendala teknis. Pendekatan ini diharapkan mampu memastikan teknologi tetap dapat dimanfaatkan secara mandiri setelah program PKM selesai dilaksanakan.

Bagi para anggota tim, pengalaman mengikuti PKM-PI tidak hanya menghasilkan sebuah inovasi, tetapi juga menjadi ruang belajar lintas disiplin. Mahasiswa dari berbagai program studi harus memahami aspek budidaya tanaman, teknologi, hingga pemberdayaan masyarakat dalam satu proyek yang sama. Tim berharap inovasi yang mereka kembangkan mampu membuktikan bahwa teknologi pertanian modern tidak harus mahal dan eksklusif.

“Harapan kami, teknologi smart greenhouse bukan lagi menjadi sebuah kemewahan, tetapi menjadi kebutuhan yang dapat dijangkau oleh petani Indonesia. Melalui inovasi berbiaya rendah ini, kami ingin menunjukkan bahwa teknologi modern dapat diterapkan secara nyata untuk membantu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani,” ujarnya.

Tim juga berpesan kepada mahasiswa yang ingin mengikuti PKM agar tidak ragu mencoba berbagai skema yang tersedia, khususnya PKM-PI. Menurut mereka, keberhasilan program sangat ditentukan oleh kemampuan memahami kebutuhan mitra dan menghadirkan solusi yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Melalui inovasi Snowberry Farm, mahasiswa Unpad menunjukkan bahwa kolaborasi lintas disiplin, pemanfaatan teknologi digital, dan pendekatan berbasis kebutuhan masyarakat mampu menghadirkan solusi pertanian yang adaptif, terjangkau, dan berkelanjutan. Inovasi ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan produktivitas pertanian, poin 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui penerapan teknologi tepat guna, serta poin 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengembangan sistem budidaya yang lebih efisien dan berkelanjutan.