
Menjadi Pusat Pendidikan dan Pengetahuan Inklusif Berkelanjutan yang Berkelas Dunia

Sistem Kredit Semester telah lama diterapkan di hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Dalam sistem ini digunakan satuan kredit semester (SKS) sebagai ukuran yang digunakan untuk menyatakan besarnya beban studi mahasiswa, besarnya pernyataan atas keberhasilan usaha kumulatif bagi program tertentu, serta ukuran untuk beban penyelenggaraan pendidikan. Bagi mahasiswa, satu SKS dengan metode kuliah meliputi tiga kegiatan per minggu selama satu semester, meliputi:
Tetapi, pada prakteknya hanya kegiatan tatap muka saja yang dilaksanakan oleh mahasiswa. Kegiatan akademik terstruktur kadang-kadang diberikan oleh dosen, tetapi tidak selalu. Sedangkan kegiatan belajar mandiri hampir tidak dilaksanakan oleh mahasiswa. Akibatnya sistem ini kurang efektif dalam meningkatkan prestasi mahasiswa. Selain itu sistem pebelajaran ini kurang dapat meningkatkan soft skill mahasiswa.Permasalahan yang sering dihadapi dalam pembelajaran di Perguruan Tinggi adalah mahasiswa pasif dalam mempelajari materi pembelajaran.
Ada dua penyebab pasifnya mahasiswa dalam perkuliahan;
Karena itu diperlukan suatu cara agar mahasiswa menjalankan ketiga kegiatan ini untuk meningkatkan prestasi dan soft skill mahasiswa itu sendiri. Salah satu cara yang dapat dikembangkan adalah Cara Belajar Mahasiswa Aktif atau Student Centered Learning (SCL).
Dengan SCL mahasiswa akan bekerja dengan berbagai aktifitas dalam mempelajari bahan pembelajaran. Mahasiswa akan terlatih dan tertanam untuk mempunyai tanggungjawab yang lebih besar dan terbiasa dengan proses pembelajaran.
Tujuan dan manfaat SCL ini antara lain:
Proses pembelajaran sudah saatnya bergeser dari mentransfer ilmu menjadi mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Mahasiswa harus diberi cukup waktu dan bimbingan untuk memecahkan masalah-masalah pertanian mulai dari pemuliaan, perbenihan, teknik budidaya yang efisien, pemeliharaan yang efektif dan penanganan pasca panen, serta mendistribusikannya kepada konsumen secara tepat waktu dan tetap berkualitas. Untuk itu strategi pembelajaran harus runtut dan sistematis mengacu kepada proses pembelajaran berbasis SCL.
Pada dasarnya proses pembelajaran harus mengedepankan keaktifan mahasiswa, dimana mahasiswa menjadi subjek utama pembelajar yang dirangsang aktif dalam mengkonstruksikan ilmu pertanian melalui berbagai metode pembelajaran dan diberi kesempatan seluas-luasnya untuk menumbuhkan cinta pada profesi pertanian melalui praktek-praktek yang menyenangkan. Dosen sebagai fasilitator dituntut kreatif untuk menciptakan suasana pembelajaran, responsif terhadap isu aktual, mengoptimalkan sumberdaya yang ada dan menciptakan alat bantu pembelajaran yang efisien dan efektif.
Beragam metode pembelajaran untuk SCL yang dapat diterapkan dalam proses perkuliahan, di antaranya :