Untitled-12
Berinovasi Melalui PKM-K: Mahasiswa Unpad Kembangkan Larvix, Biolarvasida Berbasis Limbah Sekam Padi untuk Kendalikan Jentik Nyamuk

Penulis : Syifa Djuita Putri

Jatinangor, 07 Agustus 2026 – Berangkat dari persoalan penyakit yang ditularkan nyamuk dan kebutuhan akan alternatif pengendalian jentik yang lebih praktis serta ramah lingkungan, lima mahasiswa Universitas Padjadjaran mengembangkan Larvix, blok biolarvasida berbasis limbah sekam padi dan Bacillus thuringiensis israelensis (Bti). Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) sebagai upaya menghadirkan solusi yang tidak hanya berorientasi pada pengendalian jentik, tetapi juga memanfaatkan limbah pertanian.

Larvix dikembangkan oleh lima mahasiswa lintas program studi dengan pembagian peran yang mendukung berbagai aspek pengembangan produk. Muhammad Ghazy Akbar (Pendidikan Dokter 2025) sebagai Chief Executive Officer (CEO) yang bertanggung jawab mengoordinasikan jalannya tim. Fawzan Hazman Syira Tsaqofi (Pendidikan Dokter 2025) sebagai Chief Technology Officer (CTO) yang menangani aspek teknologi, penyusunan proposal, dan laporan. Dari bidang pertanian, Rhassya Athayaa Lusaid (Agroteknologi 2023) sebagai Chief Operating Officer (COO) yang menangani operasional tim. Kemudian, Tamara Herda Oktavidia (Agroteknopreneur 2024) sebagai Chief Marketing Officer (CMO) yang bertanggung jawab pada aspek pemasaran. Qurrata Aurellia Veaho (Agribisnis 2024) sebagai Chief Financial Officer (CFO) sekaligus sekretaris yang menangani pengelolaan keuangan dan administrasi tim. Komposisi tersebut memungkinkan setiap anggota berkontribusi sesuai dengan bidang keahliannya, sekaligus melengkapi kebutuhan pengembangan Larvix dari sisi kesehatan, teknologi, produksi, operasional, keuangan, hingga pemasaran.

Pembentukan tim sendiri berlangsung melalui proses yang cukup dinamis. Tim awalnya dibangun dari lingkungan Fakultas Kedokteran, kemudian berkembang melalui rekomendasi dan jejaring mahasiswa hingga melibatkan mahasiswa dari Fakultas Pertanian. Perubahan komposisi anggota juga sempat terjadi sebelum akhirnya terbentuk tim yang solid. Bagi tim, proses tersebut menjadi pengalaman dalam membangun kolaborasi lintas program studi sekaligus menyesuaikan kemampuan setiap anggota dengan kebutuhan pengembangan produk.

Dalam perjalanannya, tim Larvix juga mengalami perubahan skema PKM. Produk yang semula diajukan melalui PKM-Karsa Cipta (PKM-KC) kemudian diarahkan ke PKM-Kewirausahaan karena karakter inovasinya dinilai lebih sesuai dengan pengembangan produk dan aspek kewirausahaan. Perubahan tersebut membuat tim harus menyesuaikan proposal dalam waktu yang terbatas. Beberapa anggota bahkan perlu mempelajari aspek di luar latar belakang akademiknya, termasuk akuntansi dan penyusunan proposal kewirausahaan.

Larvix dirancang sebagai blok larvasida dengan sistem slow-release yang mengombinasikan sekam padi, asam stearat, dan Bti. Sekam padi yang dihaluskan digunakan sebagai bahan dasar, sedangkan asam stearat berfungsi sebagai perekat. Bti menjadi komponen aktif yang bekerja secara spesifik terhadap jentik nyamuk. Kombinasi ketiga bahan tersebut menghasilkan blok yang memungkinkan pelepasan bahan aktif berlangsung secara bertahap.

Satu kemasan Larvix terdiri atas 10 blok dengan berat masing-masing sekitar 10 gram. Dalam penggunaannya, satu blok dapat diaplikasikan pada genangan air dengan volume sekitar 40 liter dan dirancang untuk menjaga air tetap bebas dari jentik nyamuk hingga 28 hari. Konsep tersebut membuat Larvix dapat digunakan tanpa perlu melakukan penakaran maupun aplikasi berulang dalam waktu singkat.

“Target kami itu ingin yang praktis. Jadi, sekali dicemplung, kita sudah satu bulan aman. Paling cuma sebulan sekali untuk pemakaian,” ujar salah satu anggota tim.

Pemanfaatan Bti menjadi salah satu aspek utama dalam mekanisme kerja Larvix. Berdasarkan penjelasan tim, bakteri tersebut harus tertelan oleh jentik agar dapat bekerja. Setelah masuk ke saluran pencernaan, toksin yang dihasilkan Bti bekerja merusak bagian pencernaan jentik hingga menyebabkan kematian. Mekanisme tersebut membuat sasaran Larvix lebih spesifik terhadap larva nyamuk yang memakan bahan aktif tersebut.

Pengembangan Larvix juga dilatarbelakangi oleh penggunaan larvasida berbahan kimia seperti temephos yang telah digunakan dalam pengendalian jentik. Tim melihat adanya kebutuhan terhadap alternatif yang lebih ramah lingkungan karena penggunaan larvasida kimia secara berulang dapat berkaitan dengan munculnya resistensi pada larva nyamuk. Pemanfaatan Bti dalam Larvix kemudian dipadukan dengan sekam padi sebagai limbah pertanian untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah sekaligus mendukung prinsip ekonomi sirkular.

Selain aspek bahan, bentuk blok menjadi salah satu keunggulan yang ditawarkan Larvix. Masyarakat dapat menggunakannya secara langsung pada tempat penampungan air tanpa perlu melakukan penakaran khusus. Sistem slow-release juga memungkinkan bahan aktif dilepaskan secara bertahap sehingga produk dirancang dapat digunakan dalam jangka waktu lebih panjang. Pemanfaatan sekam padi sebagai bahan dasar turut menjadi bagian dari pendekatan keberlanjutan yang dibawa oleh produk.

Untuk memastikan kualitas produk, tim bekerja sama dengan laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan (HPT) dalam pengujian yang mencakup toksisitas, residu, dan efikasi. Dalam perencanaan pasar yang lebih luas, tim menargetkan masyarakat di Jatinangor dan Bandung Raya. Untuk jangka menengah, Larvix diarahkan untuk dapat menjangkau rumah sakit, dinas kesehatan, dan institusi kesehatan lainnya. Tim juga berharap dapat bekerja sama dengan dinas kesehatan dalam jangka panjang untuk memperkenalkan Larvix sebagai salah satu alternatif pengendalian jentik di masyarakat.

Strategi pengenalan Larvix kepada masyarakat dilakukan melalui pemasaran digital dan kegiatan secara langsung. Tim membuat konten interaktif dan edukatif di media daring serta memperkenalkan produk dalam berbagai kegiatan di lingkungan Unpad dan Bandung Raya. Pendekatan tersebut tidak hanya ditujukan untuk memperluas pasar, tetapi juga memberikan edukasi mengenai pengendalian jentik nyamuk.

Tim juga menyediakan ruang konsultasi bagi konsumen melalui grup WhatsApp yang melibatkan anggota tim dan dokter pengawas. Konsumen yang membeli produk dapat memperoleh saluran komunikasi untuk menyampaikan pertanyaan maupun keluhan selama menggunakan Larvix.

Di balik pengembangan produk, tim menghadapi tantangan dalam mengatur waktu karena setiap anggota memiliki latar belakang program studi dan jadwal kegiatan yang berbeda. Perbedaan tersebut membuat koordinasi menjadi tantangan tersendiri. Namun, anggota tim berupaya membagi tugas dan menjaga komunikasi agar tanggung jawab masing-masing tetap dapat diselesaikan.

Bagi tim, keberhasilan memperoleh pendanaan PKM-K menjadi pengalaman yang tidak terlepas dari proses panjang dan penyesuaian. Bahkan, pada tahap penyusunan proposal, beberapa anggota harus bekerja dalam waktu yang terbatas setelah perubahan skema PKM. Pengalaman tersebut membuat tim belajar untuk memahami aspek kewirausahaan yang sebelumnya belum menjadi bagian utama dari latar belakang mereka.

Pengalaman tersebut pula yang kemudian melahirkan pesan bagi mahasiswa yang ingin mengikuti PKM. Menurut tim, inovasi yang dikembangkan tidak harus selalu berupa gagasan yang sangat kompleks atau sepenuhnya baru. Hal yang lebih penting adalah memastikan konsepnya matang, aplikatif, realistis, serta memiliki peluang untuk dikembangkan.

“Kuatkan konsep dari inovasi atau ide. Tidak harus benar-benar out of the box, yang penting aplikatif, bisa diaplikasikan, dan realistis,” ungkap Ghazy.

Bagi Larvix, konsistensi juga menjadi bagian penting dalam menjalankan PKM. Perubahan skema, pergantian anggota, perbedaan jadwal, hingga proses pengembangan produk menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengembangan inovasi tidak berhenti pada gagasan, tetapi membutuhkan kolaborasi, kemampuan beradaptasi, dan komitmen untuk membawa produk hingga dapat diterapkan.

Melalui Larvix, mahasiswa Unpad berupaya menggabungkan persoalan kesehatan masyarakat dengan potensi limbah pertanian. Pemanfaatan sekam padi sebagai bahan dasar larvasida sekaligus penerapan sistem slow-release menunjukkan upaya tim dalam menghasilkan produk yang praktis, ekonomis, dan berorientasi pada keberlanjutan. Inovasi ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui upaya pengendalian vektor penyakit, sekaligus memperkuat pemanfaatan sumber daya pertanian secara lebih berkelanjutan.