
Menjadi Pusat Pendidikan dan Pengetahuan Inklusif Berkelanjutan yang Berkelas Dunia


Penulis: Syifa Djuita Putri
Jatinangor, 09 Juli 2026 — Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran melalui Program Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA) terus mengembangkan riset strategis yang berorientasi pada penyelesaian permasalahan pangan nasional. Salah satu riset yang tengah berlangsung dipimpin oleh Prof. Dr. Tomy Perdana, S.P., M.Si., guru besar bidang Ilmu Agribisnis pada Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Riset tersebut berfokus pada pengembangan model rantai pasok pangan sirkular yang mengintegrasikan wilayah produsen, peri-urban, dan perkotaan untuk mengurangi kehilangan hasil (food loss) dan sampah pangan (food waste) secara berkelanjutan.
Riset ini merupakan bagian dari program Pendanaan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) yang didukung selama tiga tahun dan dilaksanakan melalui kolaborasi internasional dengan Centre for Logistics and Sustainability, Heriot-Watt University, Inggris. Riset mengusung pendekatan multimetodologi untuk menghasilkan model rantai pasok pangan yang adaptif terhadap berbagai kondisi di lapangan.
Menurut Prof. Tomy, riset ini bertujuan membangun sistem rantai pasok yang tidak hanya efisien, tetapi juga menerapkan prinsip ekonomi sirkular sejak tahap produksi hingga konsumsi. Model yang dikembangkan mengintegrasikan strategi reduce, reuse, dan recycle untuk meminimalkan kehilangan hasil panen sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan limbah pangan.
“Permasalahan sampah pangan harus diselesaikan sejak dari hulu. Karena itu kami mengembangkan model yang mampu menghubungkan petani, industri, pasar modern, hingga kawasan perkotaan dalam satu sistem rantai pasok yang lebih sirkular,” jelasnya.
Riset dilaksanakan dengan mengambil studi kasus di Kabupaten Bandung Barat dan Kota Bandung, wilayah yang dipilih karena menghadapi persoalan sampah organik yang cukup besar. Berdasarkan berbagai kajian, sekitar 60% sampah di kawasan Bandung Raya merupakan sampah organik yang sebagian besar berasal dari pangan. Kondisi tersebut menjadi dasar pengembangan model yang diharapkan mampu mengurangi timbulan sampah sekaligus meningkatkan efisiensi distribusi pangan.

Dalam implementasinya, riset merancang berbagai skenario pengelolaan pangan berbasis ekonomi sirkular. Kehilangan hasil di tingkat petani diminimalkan melalui tata kelola rantai pasok berbasis kontrak sehingga distribusi menjadi lebih terencana. Sementara itu, produk pangan yang tidak memenuhi standar pasar tetap dimanfaatkan sebagai pakan ternak, bahan baku pupuk organik, hingga sumber energi alternatif berupa briket. Di tingkat hilir, pangan layak konsumsi yang tidak terserap pasar diarahkan untuk didistribusikan melalui food bank, sedangkan limbah organik lainnya diolah menggunakan maggot sebelum dimanfaatkan kembali sebagai pakan maupun pupuk.
Pengembangan model tersebut didukung oleh teknologi pemodelan komputasi yang kompleks. Data lapangan dikumpulkan di Jawa Barat, kemudian diproses menggunakan fasilitas supercomputer di Heriot-Watt University untuk menjalankan simulasi Agent-Based Modeling yang membutuhkan kapasitas komputasi tinggi.
Hingga saat ini riset telah menghasilkan satu publikasi pada jurnal internasional Sustainable Futures, sementara artikel ilmiah lainnya sedang dalam proses peninjauan di jurnal Agriculture and Food Security. Pada tahun berjalan, tim peneliti juga tengah menyelesaikan pengembangan model Agent-Based Modeling sebelum memasuki tahap optimasi pada periode berikutnya.
Selain riset mengenai ekonomi sirkular, Prof. Tomy bersama tim juga mengembangkan riset lainnya yang mengkaji struktur pengambilan keputusan aktor dan tata kelola rantai pasok beras. Riset ini dilakukan di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Lampung untuk memahami pola distribusi gabah dan beras antar wilayah serta menyusun rekomendasi kebijakan distribusi pangan yang lebih efektif.
Riset tersebut memanfaatkan pendekatan multimetodologi yang dipadukan dengan machine learning dan game theory untuk menganalisis hubungan antar aktor dalam rantai pasok beras. Salah satu tujuan utamanya adalah menghasilkan sistem distribusi pangan yang lebih aman, efisien, serta mendukung berbagai program strategis pemerintah, termasuk penguatan sistem penyediaan pangan nasional.
Menurut Prof. Tomy, tantangan utama riset terletak pada proses pemetaan aktor rantai pasok yang melibatkan banyak wilayah dan pemangku kepentingan. Namun, pendekatan ilmiah yang kuat menjadi kunci untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang berbasis bukti (evidence-based policy), bukan sekadar berdasarkan asumsi.
“Melalui pemodelan, kita dapat mensimulasikan berbagai pilihan kebijakan serta dampaknya sebelum diterapkan. Jadi kebijakan yang dihasilkan memiliki dasar ilmiah yang lebih kuat,” ujarnya.
Ke depan, hasil kedua riset tersebut diharapkan tidak hanya berhenti pada luaran akademik berupa publikasi internasional, tetapi juga dapat diimplementasikan secara nyata melalui pengembangan living lab ekonomi sirkular di Kota Bandung. Tim peneliti juga telah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Bandung melalui program ekonomi sirkular daerah serta berbagai mitra pemerintah lainnya untuk mendukung implementasi hasil riset di lapangan.
Riset ini sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan efisiensi sistem pangan, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui penerapan ekonomi sirkular dalam pengelolaan pangan, SDG 13 (Climate Action) melalui upaya pengurangan emisi dan sampah organik, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga riset, dan mitra internasional. Melalui pendekatan berbasis sains dan kolaborasi lintas sektor, riset ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan sistem pangan Indonesia yang lebih berkelanjutan, tangguh, dan adaptif terhadap tantangan masa depan.