Disunting oleh: Syifa Djuita Putri
Jatinangor, April 2026 — Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Faperta Unpad) mulai mengembangkan kawasan bekas tambang pasir dan batu di Rancabawang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, sebagai ruang edukasi berbasis lapangan. Area yang sebelumnya mengalami degradasi lingkungan ini diarahkan menjadi laboratorium alam untuk mendukung kegiatan pendidikan dan penelitian. Inisiatif ini menjawab kebutuhan pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan teori dengan praktik langsung di lapangan. Selain itu, program ini juga menjadi bagian dari upaya rehabilitasi lingkungan berbasis ilmu pertanian.
Kawasan yang dikenal sebagai Gunung Batu memiliki luas sekitar 14 hektare dengan karakteristik tanah berbahan induk vulkanik dan berada pada ketinggian ±930 meter di atas permukaan laut. Aktivitas penambangan yang berlangsung selama lima tahun telah dihentikan lebih dari satu dekade lalu akibat dampak ekologis yang signifikan. Dampak tersebut meliputi penurunan kualitas lingkungan, terganggunya struktur tanah, serta berkurangnya sumber air bagi masyarakat sekitar. Lahan terdampak diperkirakan mencapai sekitar 1 hektar dengan kondisi vegetasi yang mengalami gangguan serius. Kondisi ini menjadikan kawasan tersebut sebagai lokasi strategis untuk kegiatan rehabilitasi berbasis riset.


Secara spasial-geografis, lokasi ini memiliki posisi yang sangat strategis karena berjarak sekitar 2 kilometer dari kampus Faperta Unpad di Jatinangor. Pemilik lahan, keluarga Ronald Pallencaoe, memberikan kepercayaan kepada fakultas untuk mengelola kawasan tersebut dalam jangka panjang. Kesepakatan ini membuka peluang integrasi antara fungsi akademik dan pemulihan lingkungan. Melalui kerja sama ini, kawasan bekas tambang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran sekaligus objek penelitian. Hal ini memperkuat peran perguruan tinggi dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.

Dekan Faperta Unpad, Dr. Ahmad Choibar Tridakusumah, SP., M.P., menyampaikan bahwa kawasan ini akan dikembangkan sebagai laboratorium terbuka bagi dosen dan mahasiswa. Tahap awal pengembangan difokuskan pada inventarisasi tutupan lahan, analisis sifat tanah, serta penyusunan strategi rehabilitasi berbasis pendekatan ekologis. Langkah ini penting untuk memahami kondisi ekosistem yang telah mengalami tekanan akibat aktivitas antropogenik. Pendekatan ilmiah ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi pengelolaan yang tepat. Dengan demikian, proses rehabilitasi dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan.
Sejauh ini, keterlibatan sivitas akademika masih berada pada tahap kajian awal yang dilakukan oleh tim Pusat Studi Sistem Pengelolaan Sumber Daya Lahan. Penelitian mencakup identifikasi karakteristik tanah serta inventarisasi vegetasi pionir dan spesies invasif sebagai indikator kondisi ekosistem. Ke depan, pengelolaan kawasan ini akan melibatkan lebih banyak departemen dan organisasi mahasiswa. Salah satunya adalah Mahatva, himpunan mahasiswa pencinta alam Faperta, yang diharapkan berkontribusi dalam kegiatan eksplorasi dan konservasi. Pendekatan kolaboratif ini menjadi kunci dalam pengelolaan lahan yang berkelanjutan.

Dalam pengembangannya, kawasan ini direncanakan menjadi “Hutan Pendidikan Fakultas Pertanian Unpad” yang mengintegrasikan aspek ekologis, sosial, dan edukatif. Program ini menekankan rehabilitasi lahan dan pengelolaan agroekosistem secara berkelanjutan meskipun tidak berada dalam program studi kehutanan. Dukungan masyarakat dan pemerintah setempat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program ini. Inisiatif ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 15 (Life on Land). Dengan demikian, transformasi kawasan ini tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga berkontribusi strategis terhadap keberlanjutan lingkungan dan ketahanan ekosistem jangka panjang.




