Penulis: Syifa Djuita Putri

Jatinangor, 28 Mei 2026 — Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran melalui program Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA) terus mendorong pengembangan pertanian berkelanjutan melalui pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk bernilai ekonomi. Salah satu program yang tengah dijalankan adalah program pemberdayaan masyarakat berbasis pengelolaan limbah pertanian melalui pengolahan limbah kulit kopi dan tongkol jagung menjadi biochar di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Program ini digagas dan dipimpin oleh dosen Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Faperta Unpad, Dr. Ahmad Choibar Tridakusumah, S.P., M.P., sebagai bagian dari skema Program Pemberdayaan Wilayah yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Sebagai penggagas program, Dr. Ahmad Choibar Tridakusumah menekankan pentingnya pengelolaan limbah pertanian yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian masalah lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah ekonomi bagi petani. Menurutnya, limbah kulit kopi dan tongkol jagung selama ini masih dipandang sebagai sisa produksi yang tidak memiliki nilai, padahal keduanya memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi. Dr. Ahmad Choibar Tridakusumah menjelaskan bahwa limbah kulit kopi dan tongkol jagung selama ini sebagian besar hanya dibuang, ditumpuk, atau dibiarkan membusuk. Kondisi tersebut tidak hanya menimbulkan pencemaran lingkungan, tetapi juga menyebabkan persoalan sanitasi di sekitar area pertanian. “Limbah pertanian sebenarnya memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan,” ujarnya.

Program ini dilaksanakan bersama dua kelompok tani, yaitu Kelompok Tani Telaga Kopi yang bergerak di bidang budidaya kopi, dan Kelompok Tani Sinar Rasa yang berfokus pada budidaya jagung hibrida. Lokasi Garut dipilih karena menjadi salah satu sentra produksi kopi dan jagung terbesar di Jawa Barat, meskipun begitu pengelolaan limbah hasil pertaniannya masih belum optimal. Pelaksanaan pemberdayaan dirancang menggunakan pendekatan berbasis wilayah dan inovasi dengan menempatkan petani sebagai pelaku utama. Tahapan program dimulai dari survei dan sosialisasi, pelatihan manajemen limbah dan hilirisasi produk, pelatihan pemasaran, hingga pendampingan dan evaluasi keberlanjutan program.

Dalam pelaksanaannya, Dr. Ahmad Choibar Tridakusumah memimpin tim multidisiplin yang terdiri atas Dr. Rani Andriani Budi Kusumo dari bidang sosial ekonomi pertanian, Dirga Sapta Sara, M.P dari ilmu tanah, serta Dr. Tintin Febrianti dari Universitas Garut. Program ini juga melibatkan mahasiswa dalam proses pelatihan dan pendampingan kelompok tani. Teknologi utama yang diterapkan dalam program ini adalah mesin pyrolysis yang digunakan untuk mengubah limbah kulit kopi basah dan tongkol jagung menjadi biochar melalui proses pembakaran tertutup tanpa oksigen. Teknologi tersebut dirancang agar mudah dioperasikan oleh kelompok tani dan dapat diterapkan pada skala kecil maupun menengah.

Selain mesin pyrolysis, program ini juga dilengkapi dengan mesin huller, grinder, mesin pencetak briket, dan continuous band sealer untuk mendukung proses produksi hingga pengemasan produk. Teknologi tersebut diharapkan mampu menciptakan sistem pengolahan limbah pertanian yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan, dengan salah satu produk yang dihasilkan adalah biochar. Biochar memiliki berbagai manfaat bagi pertanian, seperti meningkatkan porositas tanah, memperbaiki kapasitas tukar kation, serta membantu meningkatkan efisiensi pemupukan. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa biochar memiliki kandungan karbon organik dan sifat fisikokimia yang baik untuk digunakan sebagai pembenah tanah.

Selain memberikan manfaat ekologis, program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani melalui pengembangan produk bernilai tambah. Limbah yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi dapat diolah menjadi biochar dan briket yang berpotensi dipasarkan sebagai produk ramah lingkungan. Program ini juga membuka peluang pemberdayaan masyarakat lokal, termasuk kelompok perempuan, dalam proses produksi dan pemasaran produk.

Pada tahun pertama, program difokuskan pada peningkatan pemahaman petani mengenai manfaat ekologis dan ekonomis limbah pertanian serta pengenalan teknologi biochar. Selanjutnya, pada tahun kedua dan ketiga, program diarahkan pada penguatan kapasitas usaha, pengelolaan produksi, hingga pengembangan pemasaran digital melalui media sosial dan platform e-commerce. Tim pengabdian menargetkan kapasitas produksi biochar mencapai sekitar satu kuintal per bulan pada tahap awal dan meningkat menjadi dua hingga tiga kuintal per bulan pada tahun berikutnya melalui penguatan manajemen produksi dan pengelolaan bahan baku.

Menurut Dr. Ahmad Choibar Tridakusumah, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat melalui pengembangan teknologi yang aplikatif dan mudah diterapkan di lapangan. Ia berharap program ini tidak hanya mampu mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah pertanian, tetapi juga menciptakan sistem pertanian yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani dalam jangka panjang. Program pengolahan limbah menjadi biochar ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengelolaan limbah pertanian berkelanjutan, SDG 13 (Climate Action) melalui pengurangan pencemaran lingkungan, serta tujuan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui peningkatan nilai ekonomi produk pertanian dan pemberdayaan masyarakat pedesaan.

id_IDIndonesian