Mengenal Kebun Jeruk Eco Edu Park Ciparanje : Hamparan Luas untuk Ruang Belajar
Penulis: Syifa Djuita Putri
Jatinangor, 26 Juni 2026 — Di tengah kawasan Kebun Percobaan Ciparanje Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, hamparan pohon jeruk tumbuh rapi membentuk lanskap hijau yang menyejukkan. Sekilas, kawasan ini tampak seperti kebun buah pada umumnya. Namun, di balik pohon-pohon yang berjejer tersebut tersimpan fungsi yang jauh lebih luas. Kebun Jeruk Eco Edu Park Ciparanje tidak hanya menjadi tempat budidaya tanaman buah, tetapi juga berkembang sebagai ruang pembelajaran, penelitian, dan pengembangan inovasi pertanian yang melibatkan dosen, mahasiswa, serta masyarakat.
Keberadaan kebun ini berawal dari keinginan para dosen Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran untuk memanfaatkan lahan yang sebelumnya kurang produktif dan dipenuhi semak belukar. Area yang dahulu tidak terkelola tersebut secara bertahap dibuka dan dikembangkan menjadi kawasan pertanaman buah yang dapat mendukung berbagai aktivitas akademik. Pengembangan Kebun Jeruk Ciparanje dipelopori oleh Prof. Dr. Ir. Danar Dono, M.Si. bersama Prof. Yusup Hidayat, S.P., M.Phil., Ph.D., yang menggagas pemanfaatan kawasan ini sebagai laboratorium lapangan untuk mendukung pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, selain juga sebagai kawasan agrowisata. Melalui pengembangan yang dilakukan secara bertahap dan swadaya, kawasan ini kemudian bertransformasi menjadi ruang belajar yang mampu menjembatani teori di ruang kelas dengan praktik langsung di lapangan.
Jeruk dipilih sebagai komoditas utama karena memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan, relatif cepat berproduksi, dan sesuai dengan kondisi lingkungan setempat. Selain itu, tanaman jeruk memungkinkan mahasiswa untuk mengamati berbagai aspek budidaya tanaman buah secara langsung, mulai dari penanaman, pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit, hingga panen. Seiring berjalannya waktu, kawasan ini terus berkembang dan kini menampung berbagai jenis jeruk, seperti jeruk siam madu, santang, nagami, tongheng, chokun, dan dekopon. Tidak hanya jeruk, berbagai tanaman buah lain seperti alpukat, durian, kesemek, delima, jambu kelutuk, dan sukun juga turut dibudidayakan sehingga menjadikan kawasan ini sebagai pertanaman aneka buah yang beragam.
Bagi mahasiswa, kebun ini menjadi ruang belajar yang menghadirkan pengalaman berbeda dibandingkan dengan pembelajaran di dalam kelas. Berbagai kegiatan praktikum dan penelitian dilakukan langsung di lapangan sehingga mahasiswa dapat memahami kondisi nyata budidaya tanaman buah. Mata kuliah yang berkaitan dengan perlindungan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, teknik aplikasi pestisida, hingga budidaya tanaman buah memanfaatkan kawasan ini sebagai laboratorium alam yang memungkinkan mahasiswa menghubungkan teori dengan praktik secara langsung. Selain itu, kebun ini juga menjadi sarana untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan di bidang pertanian melalui pengenalan budidaya tanaman buah yang memiliki prospek ekonomi dan peluang usaha yang menjanjikan jika memanfaatkan agrowisata petik buah di pohonnya.
Selain mendukung kegiatan pembelajaran, Kebun Jeruk Ciparanje juga menjadi lokasi pengembangan berbagai hasil riset dosen Fakultas Pertanian. Salah satu fokus penelitian yang dikembangkan adalah penggunaan pestisida nabati sebagai alternatif pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan. Selama bertahun-tahun, pengelolaan kebun dilakukan tanpa mengandalkan pestisida sintetis. Berbagai formulasi berbahan alami, seperti minyak nabati, minyak cengkeh, mimba, dan bahan mineral tertentu, diuji dan diaplikasikan langsung pada tanaman jeruk. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan menjaga kesehatan tanaman, tetapi juga menghasilkan buah dengan residu pestisida yang lebih rendah sehingga lebih aman bagi konsumen.
Kebun ini sekaligus menjadi bukti bahwa hasil penelitian tidak harus berhenti pada publikasi ilmiah. Berbagai inovasi yang dikembangkan di laboratorium dapat diuji secara langsung di lapangan dan menunjukkan manfaat nyata bagi budidaya tanaman. Pengembangan pestisida nabati yang diterapkan di kebun ini juga menjadi upaya untuk mendorong pertanian yang lebih berkelanjutan sekaligus memperluas hilirisasi hasil riset agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan sektor pertanian secara lebih luas.
Perkembangan kebun jeruk semakin terlihat ketika panen raya perdana dilaksanakan. Kegiatan tersebut menjadi penanda bahwa kawasan yang sebelumnya kurang produktif telah berhasil berkembang menjadi kebun buah yang mampu menghasilkan panen yang memiliki nilai manfaat. Hingga saat ini, panen jeruk telah dilakukan beberapa kali dengan hasil yang terus meningkat seiring bertambahnya jumlah pohon yang memasuki fase produksi. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan kebun berbasis riset mampu menghasilkan sistem budidaya yang produktif sekaligus ramah lingkungan.
Ke depan, kawasan ini akan dikembangkan sebagai pusat pembelajaran pertanian yang terintegrasi. Oleh karena itu, penamaan kawasan tersebut sebagai “Eco Edu Park” dinilai sangat sesuai. Selain pengembangan pertanaman buah, terdapat rencana untuk memperkuat kegiatan pembibitan, pelatihan budidaya tanaman, pelatihan pertanian organik, pelatihan pengendalian hama terpadu, serta pemeliharaan lebah madu bersengat (sting bee) dan lebah tidak bersengat (stingless bee) yang berperan penting dalam proses penyerbukan tanaman buah. Integrasi antara tanaman buah dan lebah diharapkan mampu meningkatkan produktivitas tanaman sekaligus menghasilkan produk bernilai tambah seperti madu, royal jelly, bee bread, dan propolis. Pengembangan fasilitas pendukung, seperti penyediaan bibit tanaman, kios produk pertanian, sarana edukasi, dan Unit Usaha Akademik (UUA) juga diharapkan mampu memperluas manfaat kawasan ini sebagai pusat pembelajaran sekaligus ruang interaksi antara perguruan tinggi dan masyarakat, dan sebagai daya tarik generasi muda calon mahasiswa untuk menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian khususnya dan secara umum di Universitas Padjadjaran. Oleh karena itu eksistensi area Eco Edu Park ini sangat perlu dilestarikan dan dikembangkan.
Lebih dari sekadar kebun buah, Kebun Jeruk Ciparanje menunjukkan bagaimana ruang terbuka dapat menjadi tempat bertemunya pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dari lahan yang dahulu kurang termanfaatkan, kini tumbuh sebuah ruang belajar yang menghadirkan manfaat bagi sivitas akademika maupun masyarakat luas. Kebun ini menjadi contoh bahwa pengembangan pertanian tidak hanya menghasilkan panen, tetapi juga menghasilkan pengetahuan, pengalaman, dan inovasi yang dapat diterapkan secara nyata. Melalui pemanfaatannya sebagai laboratorium lapangan, pengembangan budidaya buah, penerapan teknologi ramah lingkungan, serta kolaborasi antara sivitas akademika dan masyarakat, Kebun Jeruk Eco Edu Park Ciparanje turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero hunger) , SDG 3 (good health and well being), SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), SDG 15 (Life on Land), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Dengan demikian, keberadaan kebun ini tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga menjadi contoh pengembangan pertanian berkelanjutan yang mampu mengintegrasikan aspek pendidikan, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.










