Penulis: Nuraini Fitri Aribah & Syifa Djuita Putri
Jatinangor, 11 April 2026 – Program Studi Doktor Ilmu Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran kembali menjadi penyelenggara dalam webinar nasional bertajuk “THE SOIL RENAISSANCE: Membangkitkan Lahan Mati”. Acara ini berlangsung secara daring via Zoom Meeting, pada hari Sabtu, 11 April 2026, dengan menghadirkan sejumlah tokoh informatif dari berbagai institusi sektor pertanian nasional. Webinar ini bertujuan menjadi wadah pertukaran pengetahuan antara praktisi industri, akademisi, dan mahasiswa terkait pengelolaan lahan pertanian yang lebih produktif dan efisien guna mendukung ketahanan pangan. Adapun berlangsungnya kegiatan ini menyoroti pentingnya inovasi teknologi dan pendekatan berkelanjutan dalam meningkatkan kesuburan tanah dengan pengelolaan khusus agar dapat dimanfaatkan secara optimal bagi produksi pangan.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Eliana Wulandari, S.P., M.M., selaku Kepala Program Studi Doktor Ilmu Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan ucapan terima kasih mendalam terhadap seluruh pihak yang terlibat, serta harapan dari berlangsungnya webinar ini. Beliau juga menekankan bahwa topik yang disajikan dalam webinar ini memiliki urgensi mendalam dan sangat istimewa khususnya untuk masa depan ketahanan pangan Indonesia. Hal ini juga ditekankan oleh Dr. Ir. Ladiyani Retno Widowati, M.Sc., dari Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, sebagai pembicara kunci yang menyatakan bahwa, “Tanah adalah sumber kehidupan. Maka dari itu, sangat diperlukan upaya memproduktifkan tanah marginal untuk tanaman pangan”.
Webinar juga dihadiri oleh sejumlah narasumber inspiratif dari berbagai institusi terkait yang menghadirkan perspektif komprehensif dari aspek akademik, riset, industri, hingga implementasi di lapangan. Muhammad Fauzi, S.P., M.P., dosen Bioteknologi Universitas Muhammadiyah Bandung, memaparkan pentingnya inovasi pupuk hayati berbasis mikrobioma sebagai solusi strategis dalam optimalisasi lahan salin di Indonesia, dengan menekankan peran mikroorganisme dalam meningkatkan efisiensi pemanfaatan hara. Selanjutnya, Putri Tria Santari, S.P., M.Si., yang merupakan peneliti PR Tanaman Pangan BRIN menyoroti urgensi restorasi tanah marginal, khususnya lahan masam, melalui pendekatan inovatif berbasis pupuk organik yang mampu memperbaiki sifat kimia, fisika, dan biologi tanah secara berkelanjutan.
Melihat dari perspektif industri, Gita Bina Nugraha, S.Si., M.Si sebagai Head of Indonesia Agrichemical Research Institute PT Pupuk Indonesia (Persero), menjelaskan bahwa pengembangan biostimulan berbasis mikroba tidak hanya berhenti pada tahap penemuan, tetapi harus dirancang, disiapkan, dan dieksekusi secara adaptif sesuai kondisi lapangan agar mampu berfungsi optimal sebagai agen rehabilitasi lahan marginal maupun suboptimal. Sementara itu, Iwan Suryatno, S.Hut., M.Agr., Head of Permit & Government Relation PT Pesona Khatulistiwa Nusantara (ENM Group), memperluas diskusi ke ranah sosial-ekologis melalui strategi transformasi masyarakat menuju kemandirian pasca tambang, yang menekankan pentingnya integrasi antara pemulihan lahan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sebagai satu kesatuan sistem pembangunan berkelanjutan.
Webinar ini tidak hanya menjadi forum diseminasi ilmu, tetapi juga ruang dialog yang mempertemukan berbagai perspektif dalam memahami pengelolaan lahan marginal. Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong lahirnya inovasi aplikatif serta memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan. Bagi mahasiswa, forum ini menjadi pijakan dalam membangun pola pikir kritis dan berbasis evidensi, sementara bagi praktisi dan peneliti menegaskan pentingnya teknologi yang adaptif terhadap kondisi agroekosistem Indonesia. Secara lebih luas, topik yang diangkat selaras dengan SDGs, khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 15 (Life on Land). Dengan demikian, pemulihan lahan marginal menjadi bagian dari kontribusi nyata menuju pembangunan pertanian yang berkelanjutan dan berdaya saing.






