Penulis: Syifa Djuita Putri

Jatinangor, 09 Juni 2026 – Bagi sebagian mahasiswa, masa perkuliahan menjadi ruang untuk memperdalam ilmu dan mengejar prestasi akademik. Namun bagi Tia Oktavia, mahasiswi Agroteknologi angkatan 2023, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, masa kuliah juga menjadi kesempatan untuk mengenal diri sendiri dan berani mencoba hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, Tia berhasil mencatatkan prestasi membanggakan pada ajang Putri Hijabfluencer Jawa Barat 2026. Dalam kompetisi tersebut, ia berhasil masuk Top 5 Putri Hijabfluencer Jawa Barat sekaligus meraih nominasi Putri Hijab Intelegensia. Namun bagi Tia, pencapaian tersebut bukanlah tentang gelar atau posisi yang diraih. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi ruang untuk mengenal dirinya sendiri, mengembangkan kemampuan, dan membuktikan bahwa seseorang tidak harus menunggu sempurna untuk memulai. “Dulu saya berpikir banyak hal yang tidak bisa saya lakukan. Tapi ternyata ketika berani mencoba, kita bisa menemukan kemampuan yang sebelumnya tidak pernah kita sadari,” ujarnya.

Perjalanan Tia di dunia pageant berawal dari rasa penasaran untuk mengeksplorasi diri di luar aktivitas akademik. Ia memulai langkahnya melalui ajang Putra Putri Pertanian 2025, kemudian melanjutkan pengalaman tersebut ke Putra Putri Padjadjaran 2025 hingga kompetisi yang lebih luas.

Dari satu kompetisi ke kompetisi berikutnya, Tia belajar bahwa dunia pageant bukan sekadar tentang penampilan di atas panggung. Di baliknya terdapat proses panjang yang menuntut peserta untuk terus berkembang, mulai dari kemampuan berbicara di depan umum, berpikir kritis, membangun kepercayaan diri, hingga menyampaikan gagasan yang dapat memberikan dampak positif bagi orang lain. “Yang paling saya rasakan adalah perubahan cara pandang terhadap diri sendiri. Saya jadi lebih percaya diri untuk berbicara, menyampaikan pendapat, dan mengambil kesempatan yang datang,” tuturnya.

Meski demikian, perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Sebagai mahasiswa pertanian yang akrab dengan praktikum, tugas akademik, dan berbagai aktivitas kampus, Tia harus belajar membagi waktu dan menjaga komitmen terhadap setiap tanggung jawab yang diemban. Baginya, tantangan terbesar bukanlah kompetisi itu sendiri, melainkan kemampuan untuk tetap konsisten menjalani proses. Ia terbiasa menyusun daftar kegiatan harian secara rinci dan menentukan prioritas agar setiap tanggung jawab dapat dijalankan dengan baik.

Keyakinan tersebut juga menjadi bekal yang membantunya menjalani berbagai aktivitas selama berkuliah. Di Program Studi Agroteknologi, Tia menemukan bidang yang sesuai dengan minatnya, khususnya pada ilmu tanah dan aspek kimia yang terkandung di dalamnya. Ketertarikan itu tumbuh dari kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan serta keinginannya untuk berkontribusi pada sektor yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat.

Di tengah berbagai pengalaman yang telah dilalui, ada satu pelajaran yang paling membekas bagi Tia, yaitu keberanian sering kali menjadi awal dari perubahan besar. Menurutnya, banyak orang memiliki potensi luar biasa, tetapi ragu untuk melangkah karena takut gagal, takut tidak cukup baik, atau merasa belum siap. Padahal, kesiapan sering kali tidak datang sebelum seseorang memulai, melainkan terbentuk selama proses itu berlangsung. “Perubahan besar bisa dimulai dari keberanian yang kecil. Yang penting bukan seberapa sempurna langkah pertama kita, tetapi apakah kita berani melangkah atau tidak,” katanya.

Pesan itulah yang ingin ia bagikan kepada mahasiswa lain, terutama mereka yang masih ragu untuk mencoba hal-hal baru. Tia percaya bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang selama mau membuka diri terhadap pengalaman dan tantangan yang datang. “Kita semua punya potensi dalam diri kita. Jangan hanya menyimpannya karena takut gagal atau takut dinilai orang lain. Tunjukkan kemampuan yang kita punya, terus belajar, dan terus bertumbuh. Karena kita tidak pernah tahu sejauh apa kita bisa melangkah sampai kita benar-benar mencobanya,” ujarnya.

Tia juga membagikan pesan yang menjadi prinsip hidupnya selama ini. Ia percaya bahwa setiap orang memiliki potensi berharga yang layak untuk dikembangkan. “Kita semua ibarat emas. Potensi itu sudah ada dalam diri masing-masing. Namun, nilainya tidak akan terlihat jika kita hanya menyimpannya dan tidak berani menunjukkan kemampuan yang kita miliki. Karena itu, jangan takut mencoba, jangan takut gagal, dan jangan takut berkembang,” sambungnya.

Bagi Tia, setiap pengalaman adalah ruang belajar. Perjalanannya menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman, tantangan, dan keberanian untuk terus berkembang. Melalui prestasinya di bidang pengembangan diri, kisah Tia merepresentasikan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 5 tentang Kesetaraan Gender, yang mendorong setiap individu untuk memperoleh kesempatan belajar, mengembangkan potensi, serta berkontribusi secara aktif dalam masyarakat. Kisahnya menjadi pengingat bahwa keberanian untuk mencoba dapat membuka jalan bagi lahirnya generasi muda yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga percaya diri dalam membawa perubahan positif bagi lingkungan sekitarnya.

id_IDIndonesian