Penulis: Nuraini Fitri Aribah
Jatinangor, 29 Mei 2026 — Serangan Penggerek Buah Kopi (PBKo) atau Hypothenemus hampei kini menjadi perhatian serius di berbagai sentra perkebunan kopi di Indonesia, terutama di Jawa Barat. Hama utama tanaman kopi ini dinilai semakin agresif seiring perubahan iklim dan perubahan kondisi lingkungan perkebunan. Dosen Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Dr. Yani Maharani, S.P., M.Si. menjelaskan bahwa PBKo menyerang buah kopi dengan cara melubangi buah sehingga menurunkan kualitas maupun kuantitas hasil panen. Kondisi tersebut berdampak langsung pada nilai jual kopi, terutama untuk kebutuhan ekspor.
“Dulu PBKo biasanya menyerang buah kopi yang sudah merah atau tua. Sekarang buah kopi hijau pun sudah banyak yang terserang. Ini menunjukkan adanya perubahan perilaku dan peningkatan agresivitas PBKo,” ujarnya.
Dalam riset yang dikembangkannya, Dr. Yani Maharani menilai perubahan iklim menjadi salah satu faktor yang memicu meningkatnya agresivitas PBKo di sejumlah sentra perkebunan kopi. Kenaikan suhu udara membuat siklus hidup serangga berlangsung lebih cepat sehingga memperbesar peluang reproduksi dan memicu lonjakan populasi hama di lapangan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan tingkat serangan pada tanaman kopi serta mengancam produktivitas dan kualitas hasil panen petani. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengendalian yang lebih adaptif dan ramah lingkungan untuk menekan perkembangan PBKo di tengah perubahan iklim yang terus berlangsung.
Penelitian yang telah berjalan sejak 2023 tersebut dilakukan di berbagai sentra kopi Jawa Barat, mulai dari Pangandaran, Ciamis, Sumedang, Bogor, Kabupaten Bandung, hingga Garut. Tim peneliti melakukan pengamatan pada kopi Robusta maupun Arabika dengan berbagai kondisi agroekosistem dan ketinggian tempat. Hasil sementara menunjukkan bahwa intensitas serangan PBKo cenderung lebih tinggi pada perkebunan kopi yang berada di area terbuka atau dekat permukiman dibandingkan kebun kopi dengan sistem agroforestri. Keberadaan pohon naungan dan kondisi lingkungan alami dinilai mampu membantu menekan serangan hama.
“Tanaman kopi yang berada di dekat rumah atau tempat pengolahan lebih rentan terserang PBKo dibandingkan kopi yang berada di sistem agroforestri,” jelasnya. Ia menambahkan, aktivitas manusia juga diduga turut memengaruhi keberadaan PBKo. Emisi karbon dari aktivitas di sekitar pemukiman dan area pengolahan kopi diduga memengaruhi dinamika populasi hama tersebut.
Dalam penelitian lanjutan tahun 2026, tim peneliti akan fokus mengembangkan strategi pengendalian PBKo melalui penggunaan perangkap atau trap dengan berbagai variasi warna. Selama ini, perangkap PBKo umumnya menggunakan warna merah, namun penelitian terbaru mencoba menguji efektivitas warna lain dalam menarik hama tersebut. “Kami sedang mempersiapkan prototype trap untuk diuji di lapangan dan laboratorium. Harapannya nanti bisa ditemukan strategi pengendalian yang lebih efektif dan aplikatif untuk petani,” ungkapnya.
Selain penggunaan perangkap, penelitian juga mengkaji potensi musuh alami seperti parasitoid sebagai agen pengendalian hayati. Namun, jumlah parasitoid yang ditemukan di lapangan masih relatif sedikit sehingga pendekatan rekayasa habitat menjadi alternatif yang dinilai lebih memungkinkan. Tim peneliti juga mempertimbangkan penggunaan tanaman refugia guna menarik serangga alami yang dapat membantu menekan populasi PBKo secara alami dan juga penyerbuk yang dapat meningkatkan produktivitas kopi.
Penelitian ini melibatkan mahasiswa serta bekerja sama dengan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan IPB University. Kolaborasi tersebut dilakukan dalam bentuk analisis laboratorium, analisis data, hingga pengembangan riset lanjutan. Melalui penelitian ini, Dr. Yani Maharani berharap dapat menemukan jawaban atas fenomena meningkatnya serangan PBKo pada buah kopi muda sekaligus menghasilkan strategi pengendalian yang efektif dan mudah diterapkan oleh petani. “Harapan kami, hasil penelitian ini benar-benar aplikatif dan dapat membantu petani mengendalikan PBKo sehingga produktivitas kopi di Jawa Barat tetap terjaga,” pungkasnya.
Upaya pengembangan strategi pengendalian PBKo berbasis ramah lingkungan ini diharapkan tidak hanya mampu menjaga produktivitas kopi nasional, tetapi juga mendukung praktik pertanian berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim. Penelitian tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals/SDGs, khususnya SDG 2 tentang ketahanan pangan, SDG 12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim melalui penguatan sistem pertanian yang lebih adaptif dan berkelanjutan.








