Jatinangor, [11 Juni 2026] — Di tengah anggapan bahwa dunia pertanian kurang menjanjikan bagi generasi muda, Muhammad Dhiya Farraz memilih untuk membuktikan sebaliknya. Seorang mahasiswa Program Studi Agroteknologi angkatan 2025 Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Faperta Unpad) tersebut berhasil meraih gelar Winner Putra Putri Pertanian 2026 dengan membawa misi yang sederhana: mengubah stigma terhadap dunia pertanian.

“Aku melihat banyak generasi muda menganggap pertanian sebagai hal yang biasa dan kurang menjanjikan. Aku ingin mengubah stigma tersebut dan menjadi orang yang berperan dalam pertanian.”

Ketertarikan Farraz pada dunia pertanian tumbuh sejak ia mengenal hidroponik di bangku SMA. Seiring waktu, ia menyadari masih banyak generasi muda yang menganggap pertanian sebagai bidang yang kurang menarik.

Seiring berkuliah di Faperta Unpad, cara pandang Farraz terhadap pertanian perlahan berubah. Berbagai kegiatan organisasi dan akademik membawanya melihat pertanian dengan perspektif yang lebih luas. Baginya, pertanian jauh lebih luas daripada sekadar aktivitas menanam dan memanen. Ia melihat pertanian berkaitan dengan ketahanan pangan, teknologi, kebijakan, keberlanjutan, hingga kesejahteraan petani.

“Pertanian adalah fondasi kehidupan dan masa depan. Aku punya tekad untuk membuktikan bahwa pertanian bukan bidang yang kecil, tetapi bidang yang akan selalu tumbuh dan dibutuhkan sampai kapan pun.”

Di antara berbagai isu yang ia pelajari, regenerasi petani muda menjadi hal yang paling membuka matanya. Menurut Farraz, tantangan terbesar pertanian saat ini bukan hanya soal hasil panen, tetapi juga tentang siapa yang akan melanjutkan perjuangan para petani di masa depan.

“Aku merasa isu regenerasi petani muda sangat dekat dengan realitas hari ini. Pertanian semakin menua, sementara generasi mudanya semakin jauh,” ungkapnya.

Keyakinan itulah yang mendorong Farraz mengikuti ajang Putra Putri Pertanian 2026. Ia melihat kompetisi tersebut sebagai wadah untuk menyuarakan isu dan gagasannya sekaligus memperkenalkan pertanian kepada masyarakat yang lebih luas.

Meskipun begitu, perjalanan menjadi winner tak selamanya mudah. Farraz mengaku pernah menjadi sosok introvert dan jarang mengambil peran kepemimpinan saat masih bersekolah. Namun, pengalaman berorganisasi di kampus mendorongnya untuk terus berkembang.

“Kalau dulu aku hanya menjadi anggota, saat kuliah aku benar-benar memaksakan diri keluar dari zona nyaman.”

Selama mengikuti rangkaian Putra Putri Pertanian 2026, Farraz secara konsisten membawa isu regenerasi petani muda dalam berbagai tahapan seleksi. Baginya, ajang tersebut menjadi kesempatan untuk menyuarakan isu yang selama ini ia yakini.

Keberanian tersebut akhirnya membawanya hingga ke panggung Putra Putri Pertanian 2026. Saat namanya diumumkan sebagai winner, Farraz merasa momen tersebut bukan hanya tentang gelar yang ia diraih, melainkan tentang proses panjang yang telah ia lalui untuk membawa gagasan yang ia yakini.

Melalui pencapaiannya, Farraz berharap semakin banyak mahasiswa Faperta Unpad yang berani mengembangkan potensi diri dan mengambil peran di tengah masyarakat. Ia percaya bahwa setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk berprestasi selama mau belajar, bertumbuh, dan terus berproses.

“Prestasi bukan soal siapa yang paling sempurna, tetapi siapa yang paling konsisten dan berani untuk mengambil peran,” tutupnya.

*Keterangan:

Sumber berita wawancara sebagai tugas Mata Kuliah Penulisan Humas, Program Studi Hubungan Masyarakat, Fakultas Ilmu Komunikasi

Penulis : Lateefa Humaira Aaravi (NPM : 210310250006)

id_IDIndonesian