Jatinangor, 18 Juni 2026 — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir turut menjadi tantangan ekonomi bagi mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Faperta Unpad). Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya harga sejumlah kebutuhan pokok, biaya transportasi, serta berbagai kebutuhan akademik yang menunjang kegiatan perkuliahan dan praktikum.
Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari sisi global maupun domestik. Ketidakpastian ekonomi dunia dan penguatan dolar AS memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, sementara tingginya kebutuhan impor dan dinamika arus investasi turut memengaruhi kondisi tersebut. Di tengah situasi tersebut, mahasiswa Faperta Unpad turut merasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari dan menghadapi berbagai tantangan dalam memenuhi kebutuhan pendidikan maupun kebutuhan pribadi.
Pandangan dan Penilaian Mahasiswa

Mahasiswa Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Viola Ananda Khairunnisa, menilai bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat perlu dilihat secara kritis dan berimbang. Menurutnya, kondisi tersebut memang dapat memberikan peluang bagi komoditas ekspor unggulan Indonesia, seperti minyak kelapa sawit, kopi, karet, dan kakao, untuk semakin kompetitif di pasar internasional. Namun, di sisi lain, sektor agribisnis nasional juga menghadapi tantangan akibat meningkatnya biaya berbagai input produksi yang masih bergantung pada impor.
“Ketika rupiah melemah, biaya pupuk, pestisida, alat dan mesin pertanian, hingga pakan ternak ikut meningkat. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh petani, tetapi juga masyarakat sebagai konsumen karena kenaikan biaya produksi dapat mendorong inflasi pangan,” ujarnya.
Dampak yang Dirasakan
Viola mengaku bahwa pelemahan rupiah cukup terasa dalam kehidupan sehari-harinya. Kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok menjadi dampak yang paling dirasakan, mulai dari minyak goreng, tepung terigu, telur, hingga daging ayam. Selain itu, meningkatnya biaya energi dan transportasi juga turut memengaruhi pengeluaran harian mahasiswa.
“Ketika rupiah melemah, dampaknya bukan hanya terlihat dalam berita ekonomi. Saya merasakannya langsung saat berbelanja kebutuhan sehari-hari, mengisi bahan bakar, atau membeli bahan makanan untuk memasak di kos,” katanya.
Tantangan dalam Perkuliahan
Selain kebutuhan sehari-hari, kondisi pelemahan rupiah juga berpengaruh terhadap aktivitas akademik. Sebagai mahasiswa agribisnis, Viola kerap melakukan analisis harga komoditas dan studi kelayakan usaha tani dalam berbagai tugas perkuliahan. Menurutnya, perubahan harga yang terjadi secara cepat membuat data yang digunakan dalam analisis harus terus diperbarui agar tetap relevan dengan kondisi lapangan.
“Data harga komoditas sering berubah dalam waktu singkat sehingga hasil analisis yang kami kerjakan harus terus disesuaikan. Namun, kondisi ini juga menjadi pembelajaran yang menarik karena kami dapat melihat langsung keterkaitan teori ekonomi dengan fenomena yang terjadi,” jelasnya.
Upaya Penyesuaian
Menghadapi kondisi ekonomi yang tidak menentu, Viola mengaku mulai lebih cermat dalam mengatur pengeluaran sehari-hari. Ia berupaya menyesuaikan pola konsumsi dengan kebutuhan yang benar-benar penting agar kondisi keuangan tetap terjaga di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan. Langkah tersebut juga mencerminkan kondisi yang dialami banyak mahasiswa Faperta Unpad yang harus menyesuaikan pola pengeluaran mereka akibat meningkatnya biaya hidup.
Salah satu bentuk penyesuaian yang dilakukan Viola adalah memasak sendiri untuk menghemat biaya makan serta mengurangi penggunaan transportasi daring. Upaya serupa juga dilakukan oleh sejumlah mahasiswa lainnya yang mulai mencari alternatif yang lebih ekonomis dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di tengah kenaikan harga berbagai barang dan jasa, mahasiswa dituntut untuk lebih selektif dalam menentukan prioritas pengeluaran agar kebutuhan akademik tetap dapat terpenuhi.
Selain melakukan penghematan, Viola membiasakan diri mencatat pengeluaran harian untuk memantau kondisi keuangan secara lebih teratur. Kebiasaan tersebut menjadi salah satu cara yang relevan bagi mahasiswa dalam mengelola anggaran secara efektif di tengah kondisi ekonomi yang berfluktuasi. Dengan mengetahui pola pengeluaran, mahasiswa dapat mengidentifikasi kebutuhan yang paling penting sekaligus menghindari pengeluaran yang kurang mendesak.
Lebih lanjut, Viola menilai mahasiswa Faperta Unpad memiliki keunggulan tersendiri dalam menghadapi situasi ini karena dapat memanfaatkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan. Pengetahuan mengenai pertanian dan agribisnis dapat membantu mahasiswa memahami dampak pelemahan rupiah terhadap sektor pangan dan pertanian, sekaligus melihat potensi komoditas lokal sebagai alternatif pengganti bahan impor. Melalui berbagai kegiatan akademik maupun program magang, mahasiswa juga dapat memperoleh pengalaman yang memperkaya pemahaman mereka terhadap dinamika industri pertanian di tengah tantangan ekonomi yang sedang berlangsung.
Opini Penulis
Pelemahan rupiah menunjukkan bahwa kondisi ekonomi makro tidak hanya berdampak pada dunia usaha atau sektor industri, tetapi juga dapat dirasakan secara langsung oleh mahasiswa. Kenaikan harga kebutuhan pokok, transportasi, hingga berbagai kebutuhan akademik menjadi tantangan yang harus dihadapi di tengah keterbatasan anggaran yang dimiliki mahasiswa. Situasi ini memperlihatkan bahwa perubahan ekonomi nasional memiliki keterkaitan yang erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa.
Di sisi lain, kondisi tersebut dapat menjadi sarana pembelajaran yang berharga bagi mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Melalui pemahaman terhadap isu ekonomi dan sektor pertanian, mahasiswa dapat melihat secara nyata hubungan antara teori yang dipelajari di perkuliahan dengan kondisi yang terjadi di lapangan. Kemampuan untuk beradaptasi, mengelola sumber daya secara bijak, dan memanfaatkan potensi lokal menjadi keterampilan penting yang dapat membantu mahasiswa menghadapi berbagai tantangan ekonomi di masa depan.
*Keterangan:
Sumber berita wawancara sebagai tugas Mata Kuliah Penulisan Humas, Program Studi Hubungan Masyarakat, Fakultas Ilmu Komunikasi
Penulis : Joyce Christina Fuyono