“Perjalanan hidup itu bukan hanya sekedar untuk dijalani. Hidup itu tentang kesadaran, pilihan, dan keberanian. Di sisi lain, memimpin adalah tingkat tertinggi atas kesadaran dalam berkehidupan, sadar akan keadaan sekitar, sadar atas keputusan yang kelak diamini, sadar akan tanggung jawab dari berperilaku dalam kehidupan sehari-hari, dan sadar akan mengalami kesendirian selama memimpin”.

Demikian ucap Muhammad Rafa Fasya, dengan nama panggilan Rafasya, setelah memberikan tanggapannya terkait apa arti hidup serta apa arti kepemimpinan bagi dia. Menjadi pemimpin memanglah tidak mudah. Proses menjadi pemimpin adalah proses yang berkelanjutan dan proses yang memiliki banyak lika-liku, seperti perjalanan dia.

Awal Mula Perjalanan Rafasya

Perjalanan Rafasya hingga menjadi Project Officer Agriculture Grow Leaders memang cukup panjang. Mahasiswa yang lahir di Bekasi, 26 Desember 2005 ini telah melewati berbagai pengalaman kepanitiaan serta pengalaman berorganisasi. Sebelum mengenyam posisi strategis di skala fakultas, Rafa yang merupakan alumni dari SMAN 14 Bekasi dan SMPN 19 Bekasi, pernah menjadi Ketua Ekstrakurikuler Pramuka pada masa SMP nya di tahun 2020 dan pernah menjadi Wakil Ketua I OSIS SMAN 14 Bekasi. Perjalanan Rafasya tidak berhenti sampai situ, dia terus mencoba dan mengeksplor hal-hal baru ketika menginjak masa perkuliahan.

Mahasiswa program studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Unpad ini memulai perjalanannya di tahun pertama sebagai mahasiswa dengan menjadi staff Magang Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa (Kema) Unpad 2024 (MBKU) Departemen Advokasi dan Sosial Masyarakat Kabinet Satu Rasi dan Staff Divisi Acara Pemira Keluarga Mahasiswa Fakultas Pertanian 2024. Dengan segudang pengalaman yang dia punyai, Rafasya terus mengembangkan potensi yang ada.

Berbekal kepemimpinan dan pemikiran yang kritis, dia mendapatkan kesempatan dengan tiga posisi strategis dalam organisasi dan kepanitiaan pada tahun 2025. Dia mendapatkan kesempatan untuk menjadi Wakil Kepala Divisi Materi Garda Padjadjaran School 2025, Project Officer Chandrabaga Koasi 2025, dan menjadi Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Pertanian (BEM KMFP) Unpad 2025 Kabinet Pengukuh Mimpi. Menjadi Kepala Departemen di saat regenerasi sedang terhambat karena minim peminat pada organisasi khususnya BEM bukanlah perjalanan yang mudah. Pada umumnya, proses kenaikan jabatan saat berorganisasi di lingkup kuliah bermula dengan menjadi staff di tahun pertama lalu menjadi kepala ataupun wakil kepala departemen di tahun kedua. Tentunya, ini menjadi tantangan besar bagi dia. Rafasya pun memberi tanggapan tentang perjalanannya melalui wawancara.

Perjalanan Membentuk Pandangan tentang Kepemimpinan dan Pergerakan Mahasiswa

Rafasya mengatakan bahwa selama menjadi Kepala Departemen Kastrat di BEM KMFP 2025, dia melihat bahwa lingkungan sekitar memandang pemimpin berbeda. Dalam konteks ini, orang lain melihat Ketua BEM sebagai seorang superhero yang serba bisa, tanpa memperhatikan beberapa hal. Miris dan sering kali terjadi bahwa banyaknya warga kerap hanya mengkritik dan berkomentar tentang kinerja yang dalam beberapa hal belum maksimal, tetapi warga seringkali lupa untuk mengapresiasi pemimpinnya sendiri.

Perjalanan Menaklukkan Tantangan di Agriculture Grow Leader 2026

Rafasya menjelaskan tantangan yang dia alami saat menjadi Ketua Pelaksana Agriculture Grow Leaders 2026 (Kaderisasi Jenjang 3 Fakultas Pertanian). Tantangan tersebut adalah sulitnya mencari peserta untuk menjadi konsumen dari program kerja ini. Garis Besar Haluan Pengembangan dan Kaderisasi Fakultas Pertanian sendiri tidak mewajibkan Warga KMFP untuk menempuh Kaderisasi hingga jenjang-jenjang selanjutnya setelah jenjang 1. Dinamika terbesar terjadi dalam linimasa pendaftaran terbuka untuk peserta, hingga pihak panitia harus melakukan perpanjangan masa pendaftaran. Namun dari dinamika tersebut juga, panitia mendapatkan dan memetik banyak pelajaran.

Dia menuturkan bahwa, “Kalau harus dirangkum, perjalanan aku selama menjadi Kepala Departemen Kastrat, Project Officer Chandrabaga Koasi, Ketua Pelaksana Agriculture Grow leaders, mungkin nilai dan prinsip yang ingin aku sampaikan adalah, Resah, Peduli, Bergerak. Hal ini adalah akibat dari semua perjalanan panjang yang telah aku tempuh, segalanya berakar dari keresahan. Hilangnya komunitas mahasiswa Unpad Bekasi. Gelisah akan politik di Negara Indonesia yang dipenuhi kepentingan rezim dan oknum, terutama di bidang pertanian. Resah akan krisis kepemimpinan yang terjadi di Fakultas Pertanian, dan banyaknya individu yang telah merasa puas setelah pernah menjadi pemimpin”.

Rafasya telah menunjukkan bahwa perjalanan yang panjang akan terus menghasilkan hal-hal yang baik. Sebagaimana menyiram tanaman terus-menerus akan membuat tanaman tersebut menjadi subur. Sama seperti dia, dengan terus menambah pengalamannya, dia dapat menjadi pemimpin yang bisa menggerakkan para anggotanya.

Kesimpulan

Dari kisah Rafasya, pembaca yang mungkin sekarang mengenyam pendidikan, dapat memetik banyak pelajaran. Kegiatan organisasi telah menunjukkan bahwa pengembangan diri, membangun pola pikir yang kritis, serta kemampuan untuk memimpin terjadi di luar bangku perkuliahan. Jika di bangku perkuliahan lebih merujuk ke hal-hal teknis dan ilmiah terkait bidang yang memang dipelajari, maka dunia organisasi akan mengajarkan hal yang berbeda. Organisasi bisa menjadi tempat untuk mengembangkan soft skill seperti komunikasi interpersonal, manajemen konflik, serta problem solving. Selain itu, membangun relasi menjadi kunci di masa depan, karena suatu saat mahasiswa akan lulus dan fokus berkarir, maka alumni, serta mitra-mitra eksternal justru muncul membantu saat lowongan pekerjaan semakin ketat. Tambah lagi, organisasi menawarkan pengalaman praktis yang tidak muncul saat pembelajaran di kelas. Contoh, mengurus sponsor serta membuat rangkaian acara tidak akan bisa dilakukan hanya dengan teori.

Pada akhirnya, pengalaman berorganisasi tidak hanya membentuk kapabilitas dan kemampuan individu sebagai pemimpin, tetapi juga memperkuat kemampuan berkomunikasi, adaptasi diri, serta negosiasi di berbagai situasi yang sulit dan juga menantang. Kemampuan tersebut tak hanya relevan di dunia perkuliahan, tetapi juga ketika masuk ke dunia kerja. Dengan demikian, organisasi dapat menjadi pelengkap untuk pendidikan formal serta dapat membantu proses perkembangan mahasiswa sebagai individu yang siap menghadapi masa depan.

*Keterangan:

Sumber berita wawancara sebagai tugas Mata Kuliah Penulisan Humas, Program Studi Hubungan Masyarakat, Fakultas Ilmu Komunikasi

Penulis : Billy Antonius Lim (NPM: 210310250005)

id_IDIndonesian