Peran Aktif Mahasiswa dalam Transformasi Tata Kelola Lahan Berkelanjutan di Kabupaten Bandung
Sebagai bentuk nyata implementasi tridarma perguruan tinggi dalam pengabdian masyarakat, delegasi mahasiswa turut hadir dalam kegiatan Aksi penanaman 100.000 pohon yang digelar di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Rabu (11/2). Kehadiran mahasiswa ini menjadi momentum edukasi penting mengenai keterkaitan antara keadilan tata kelola lahan dengan ketahanan pangan nasional.
Dalam forum tersebut, Sekretaris Jenderal Serikat Petani Pasundan (SPP), Agustiana, memaparkan edukasi kritis mengenai akar masalah lingkungan di Jawa Barat. Beliau menekankan bahwa isu kemiskinan dan kerusakan alam bukanlah sekadar fenomena teknis, melainkan dampak dari struktur penguasaan lahan yang belum merata. Mahasiswa diajak untuk memahami bahwa akses petani terhadap tanah adalah fondasi utama bagi kemandirian pangan yang berkelanjutan.
Partisipasi mahasiswa dalam kegiatan ini diharapkan mampu mengubah paradigma publik dalam memandang penyebab bencana alam. Selama ini, masyarakat kecil sering kali dianggap sebagai pemicu kerusakan hutan. Namun, fakta lapangan menunjukkan bahwa titik-titik kerawanan bencana seringkali berada di wilayah hutan produktif skala besar. Di sinilah mahasiswa berperan sebagai jembatan informasi untuk menyosialisasikan pentingnya kolaborasi antara kebijakan pemerintah dan aspirasi petani lokal.
“Mahasiswa harus menjadi mitra strategis bagi petani dan pemerintah dalam merumuskan strategi pencegahan bencana yang bersifat preventif, bukan sekadar reaktif,” ungkap Agustiana. Melalui pendekatan edukatif ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga terjun langsung memahami konflik agraria dan memberikan solusi inovatif bagi tata kelola lahan yang lebih adil di masa depan.
Aksi penanaman ribuan pohon ini menjadi simbol kolaborasi multidimensi antara pemerintah, aktivis, petani, dan akademisi. Dengan sinergi yang kuat, diharapkan tercipta ekosistem pertanian yang tangguh. Mahasiswa memiliki peran krusial untuk mengawal kebijakan pemerintah agar lebih pro-rakyat, sehingga Jawa Barat tidak hanya kuat secara ekologi, tetapi juga berdaya secara ekonomi melalui peran aktif para petani lokal.
Kegiatan ini pada akhirnya bukan sekadar aksi ekologis, melainkan manifestasi nyata dari pencapaian berbagai poin Sustainable Development Goals (SDGs) secara terintegrasi. Partisipasi aktif mahasiswa dalam penguatan tata kelola agraria ini berkontribusi langsung pada SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui pemberdayaan petani lokal demi ketahanan pangan nasional. Selain itu, kolaborasi dalam penanaman pohon ini mendukung SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dengan menjaga daya dukung lingkungan guna mencegah bencana. Melalui sinergi antara akademisi, petani, dan pemerintah, inisiatif ini mempertegas pentingnya SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) sebagai kunci utama dalam membangun Jawa Barat yang lebih adil, sejahtera, dan tangguh secara berkelanjutan.