“Futsal memang bukan tujuan utama hidup saya, tetapi selama memberikan manfaat dan pelajaran berharga, kenapa tidak dijalani? Saya percaya bahwa mungkin suatu saat saya akan berhenti bermain, tetapi pelajaran tentang disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab dari futsal akan tetap bermanfaat di hidup saya.”
Demikian ucap Lukman Hakim Arsadimansyah, atau yang akrab dipanggil Lukman, saat merefleksikan arti olahraga yang telah mendarah daging di dalam hidupnya. Banyak orang mungkin hanya melihat Lukman hari ini sebagai sosok mahasiswa atlet yang aktif berkompetisi di bawah bendera Unit Sepak Bola Unpad (USBU). Namun, di balik sorot lampu lapangan turnamen, ada proses panjang yang penuh dengan pengorbanan, jarak, dan komitmen yang tidak semua orang ketahui.
Awal Mula Mahasiswa Atlet Jatuh Cinta pada Futsal
Kecintaan Lukman terhadap si kulit bundar berakar dari sebuah momen magis di depan televisi. Saat itu, ia menyaksikan riuhnya final ISL antara Persib Bandung melawan Persipura Jayapura. Antusiasme massa yang meluap memantik api kecil di dalam diri Lukman kecil.
Tanpa fasilitas mewah, ia memulai perjalanannya dari jalanan aspal dekat rumah. Ia hanya mengandalkan tumpukan sandal sebagai gawang. Ia juga sering berlari tanpa alas kaki hingga telapak kakinya lecet.
Langkah serius pertamanya dimulai saat kelas 6 SD dengan bergabung di Sekolah Sepak Bola (SSB) Jawa Barat. Sayangnya, benturan jadwal madrasah dan jarak latihan yang jauh memaksa Lukman berhenti. Namun, gairah itu tidak padam.
Saat mengenyam pendidikan di MTsN 2 Kota Bandung, kecintaannya bertransformasi menjadi olahraga futsal melalui ekstrakurikuler. Memasuki masa SMA di SMAN 23 Bandung, Lukman mulai membagi fokus secara ketat. Ia harus menjaga keseimbangan antara performa akademik dan intensitas latihan. Menjelang kelulusan, ia bahkan memilih vakum total demi bertarung di jalur SNBT.
Akademi Futsal Sebagai Titik Balik Mentalitas
Jika menarik mundur kisahnya, proses berdarah-darah saat bergabung dengan Stepover Futsal Academy sebelum masa perkuliahan telah membentuk ketangguhan mental Lukman hari ini. Kegagalan demi kegagalan di Liga Asosiasi Akademi Futsal Indonesia Regional Bandung 1 U-16 turut menempa perannya sebagai mahasiswa atlet masa depan. Tahun pertama berakhir dengan kegagalan, tahun kedua berlanjut dengan posisi ketiga, hingga akhirnya konsistensi membawanya merengkuh gelar Juara 1 di tahun ketiga.
Kariernya terus bertumbuh saat lolos seleksi klub semi-profesional CA 2 Futsal dan meraih Juara 3 Bandung Futsal League U-17, serta membawa Juara 2 Liga Synergy U-18 pasca-vakum SNBT. Rentetan pengalaman kompetitif ini mengajarkan Lukman sesuatu yang tidak dia temukan di dalam ruang kelas, yaitu bagaimana tetap tenang di bawah tekanan tinggi, mengambil keputusan krusial dalam hitungan detik, dan memahami bahwa kemampuan individu tidak akan pernah melebihi kekuatan kerja sama tim.
Menembus Ketatnya Skuad Kampus dan Validasi Pelatih
Keputusan Lukman memilih Universitas Padjadjaran tidak memutuskan hubungannya dengan futsal. Sebagai mahasiswa baru program studi Agroteknologi, proses adaptasi lingkungan kampus langsung mengujinya ketika latihan perdana USBU. Ia harus menghadapi ratusan mahasiswa baru yang ambisius menembus skuad Liga Mahasiswa. Beruntung, Lukman berhasil melewati seleksi berjalan yang ketat berkat mental juaranya.
Tantangan hidup sebagai mahasiswa atlet dengan status komuter pun ia babat habis. Ia kuliah dari pagi hingga sore. Jadwalnya disambung latihan malam dari jam 7 hingga 10. Setelah itu, ia kembali ke rumah untuk menyelesaikan tugas akademik.
Lukman juga membawa gairah olahraganya ke tingkat internal melalui Perhimpunan Sepakbola dan Futsal Fakultas Pertanian (PSFP). Kehadiran alumni SMAN 23 Bandung ini di tim utama PSFP terbukti membawa dampak besar. Ia sukses membantu timnya meraih Juara 3 dalam ajang bergengsi Big Force Festival (BFF) Unpad. Walau finis di posisi ketiga, raihan poin futsal ini menjadi kepingan krusial. Poin tersebut mengantarkan Fakultas Pertanian keluar sebagai Juara Umum BFF Unpad.

Pelatih PSFP mengakui langsung kematangan dan kontribusi nyata Lukman.
“Karna Lukman sudah memiliki chemistry yang bagus dengan kawan kawan yang lain, selain itu kemampuan Lukman yang sangat tenang dalam mengolah bola dan mempunyai visi yang bagus dalam bermain juga jadi poin plus kenapa lukman bisa masuk di tim inti sedari maba.” ungkap pelatihnya, menegaskan bahwa kecerdasan taktis dan kemampuan beradaptasi Lukman di lapangan menjadi pembeda yang nyata.
Kesimpulan
Dari kisah perjalanan Lukman, pembaca bisa memetik pelajaran berharga tentang bagaimana seorang mahasiswa atlet berproses di luar ruang kelas. Menempuh pendidikan tinggi tidak lantas menghalangi Lukman untuk mengembangkan potensinya yang lain. Melalui dunia olahraga prestasi bersama USBU maupun PSFP, ia justru berhasil melengkapi pendidikan formalnya dengan soft skills krusial. Olahraga melatihnya memiliki manajemen waktu yang ketat, disiplin tinggi, tanggung jawab terhadap tim, serta daya tahan (grit) dalam situasi sulit.
Pada akhirnya, tantangan terbesar bagi setiap mahasiswa atlet bukan hanya terletak pada seberapa banyak piala di lemari pajangan. Tantangan sesungguhnya adalah keberhasilan menjaga komitmen atas pilihan hidup yang telah diambil. Keseimbangan antara akademik dan minat bakat inilah yang membentuk karakter mahasiswa yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi tantangan nyata di masa depan.
*Keterangan:
Sumber berita wawancara sebagai tugas Mata Kuliah Penulisan Humas, Program Studi Hubungan Masyarakat, Fakultas Ilmu Komunikasi
Penulis : Bintang Krishna Rismeranda Yerris (NIM: 210310250039)