Muhammad Agra Bifadlillah, mahasiswa Program Studi Agroteknologi Universitas Padjadjaran angkatan 2024, membawa pulang dua medali sekaligus dari Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-38. Ajang yang berlangsung pada 23–28 November 2025 di Universitas Hasanuddin, Makassar, ini berhasil dihadapi oleh timnya dengan menyabet medali emas kategori poster dan medali perunggu kategori presentasi untuk skema Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kewirausahaan.
Pencapaian ini istimewa karena timnya menjadi tim pertama Unpad yang berhasil meraih penghargaan ganda di PIMNAS. Inovasi yang mereka bawa adalah “TumbuhKeun! Pot Tray Biodegradable Kaya Nutrisi Berbasis Jerami Padi, Biochar, dan Kompos Eceng Gondok untuk Efisiensi Transplantasi Tanaman”, produk wadah semai yang memudahkan proses pindah tanam tanpa merusak akar bibit.
Berawal dari Bibit yang Mati Saat Praktikum
Ide ini lahir dari pengalaman pribadi Agra saat praktikum menanam pakcoy dan selada. Saat memindahkan bibit dari media semai ke lahan, ia kesulitan mencabutnya tanpa merusak akar. Sekitar 50% tanamannya pun mati akibat kerusakan akar dan stres air, masalah umum yang sering terjadi pada aktivitas urban farming.
Dari pengalaman itu, muncul ide membuat media semai yang bisa langsung ditanam tanpa perlu dicabut dari wadahnya. Pot tray biodegradable buatan timnya mampu menyuplai nutrisi hingga 30 hari, mengurangi stres tanaman, sekaligus mendukung ketahanan pangan rumah tangga.
Perjalanan Panjang dari Proposal hingga Makassar
Proses risetnya dimulai sejak Mei 2025 dengan survei, kajian literatur, dan penyusunan proposal. Pada Juli 2025, tim Agra lolos pendanaan PKM dan langsung tancap gas memproduksi, menguji kualitas produk di laboratorium dan demplot, sekaligus memasarkannya lewat berbagai bazar kampus. Setelah melalui presentasi laporan kemajuan (PKP2), timnya akhirnya lolos ke PIMNAS 38 sebagai perwakilan Unpad.
Tantangan terbesar datang dari padatnya waktu. Agra harus membagi fokus antara pengembangan produk, produksi, pemasaran, kuliah, dan latihan presentasi, hingga sempat menginap di kampus selama beberapa bulan. Di tengah tekanan itu, kakeknya juga harus dibawa ke UGD karena sakit keras. Namun ia memilih untuk tetap maju dan tidak menyerah.
Setiap malam, tim Agra rutin berlatih presentasi dan sesi tanya jawab, lengkap dengan bank soal berisi sekitar 100 pertanyaan prediksi. Persiapan yang terdengar sederhana ini terbukti krusial bagi keberhasilan mereka di hari penilaian.
Pada hari presentasi, Agra mengaku sempat merasa gentar melihat ratusan tim hebat dari seluruh Indonesia unjuk gagasan masing-masing. Namun ia memilih fokus memberikan usaha terbaik, sesuatu yang sudah mereka latih berbulan-bulan sebelumnya.
Dua Medali, Satu Kebanggaan untuk Unpad
PIMNAS 38 sendiri diikuti sekitar 31.000 tim pada tahap PKM, dengan 169 universitas dan 420 tim dari berbagai skema yang lolos ke tahap final di Makassar, hanya sekitar 60 tim di antaranya berasal dari skema Kewirausahaan. Di tengah ketatnya kompetisi itu, Agra dan timnya berhasil membawa pulang dua medali sekaligus, sebuah hasil yang menurutnya membayar penuh jerih payah selama berbulan-bulan dan turut mengharumkan nama Unpad di tingkat nasional.
Agra tidak berhenti di titik ini. Ia sempat mencoba PKM skema Artikel Ilmiah untuk mempublikasikan hasil risetnya, meski belum lolos pendanaan. Ia kini menyiapkan langkah selanjutnya dengan mengikuti Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) untuk melanjutkan pengembangan produknya.
Agra mengaku dulunya bukan orang yang mahir berkomputer, bahkan lambat mengoperasikan Word, Excel, hingga Canva. Modalnya hanya keberanian dan ide. Pesannya untuk mahasiswa yang ingin mencoba PKM atau PIMNAS:
“Orang yang berani mengambil risiko menghadapi menang dan gagal secara langsung. Sedangkan orang yang takut mengambil kesempatan, telah gagal sejak awal mereka menerima ketakutan itu.”
*Keterangan:
Sumber berita wawancara sebagai tugas Mata Kuliah Penulisan Humas, Program Studi Hubungan Masyarakat, Fakultas Ilmu Komunikasi
Penulis : Syahirah Leyna Mardhiyah Togubu