Penulis : Huios Imanuel
Jatinangor, 5 Desember 2025 – Universitas Padjadjaran kembali menjadi tuan rumah kegiatan ilmiah internasional melalui gelaran International Conference: Grand Challenges in Plant Biotechnology Commercialization yang diselenggarakan oleh SATREPS Project. Acara ini berlangsung di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad, Kampus Jatinangor, pada tanggal 28 November 2025 dan menghadirkan sejumlah pakar dari berbagai institusi terkemuka dunia. Konferensi ini bertujuan memperkuat kolaborasi riset, mempercepat inovasi, serta membahas tantangan dan peluang komersialisasi bioteknologi tanaman di kawasan tropis.
Salah satu pembicara utama, Prof. Hiroshi Ezura dari University of Tsukuba, memaparkan inovasi pengembangan tomat Sicilian Rouge High GABA, salah satu produk genome editing pertama di dunia yang telah dipasarkan secara komersial. Prof. Ezura menjelaskan bahwa peningkatan kadar GABA—senyawa fungsional yang berperan dalam menurunkan tekanan darah, mengurangi stres, dan meningkatkan kualitas tidur—dicapai melalui penghilangan domain autoinhibitor yang mengatur aktivitas enzim terkait biosintesis GABA. Melalui pendekatan ini, tanaman mampu mensintesis GABA dalam jumlah lebih tinggi tanpa memasukkan DNA asing sehingga dikategorikan sebagai produk non-transgenic genome editing. Inovasi tersebut menjadi ilustrasi penting mengenai bagaimana teknologi penyuntingan gen dapat menghasilkan pangan bernilai kesehatan yang lebih unggul.
Konferensi ini juga menampilkan paparan dari Dr. Satya Nugroho dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang memberikan gambaran mengenai fungsi, struktur organisasi, serta ruang lingkup penelitian bioteknologi yang dilakukan BRIN di Indonesia. Beliau turut membahas prosedur pengajuan produk bioteknologi seperti GMO atau genome-edited product di Indonesia, termasuk mekanisme penilaian keamanan hayati yang meliputi aspek pangan, pakan, dan lingkungan. Paparan tersebut menegaskan komitmen Indonesia untuk terus menyelaraskan regulasi bioteknologi dengan perkembangan ilmiah global, terutama dalam membedakan pendekatan regulasi antara GMO dan teknologi penyuntingan gen yang lebih presisi.
Sementara itu, M. Herman dari Indonesian Agricultural Biotechnology Society mengangkat permasalahan Phytophthora infestans, patogen penyebab penyakit late blight pada kentang yang berdampak besar terhadap produksi global. Beliau menjelaskan bahwa pengendalian menggunakan fungisida tidak lagi cukup untuk menekan kerusakan yang ditimbulkan patogen tersebut. Salah satu strategi penting ialah pengembangan varietas kentang tahan penyakit melalui pendekatan pemuliaan modern dan identifikasi gen resistensi. Dalam paparannya, turut disampaikan perbandingan hasil uji lapangan antara varietas tahan dan varietas rentan yang menunjukkan perbedaan signifikan tingkat keparahan penyakit, sehingga menegaskan urgensi inovasi genetik dalam menghadapi patogen yang semakin adaptif.
Dua pembicara lainnya, Valasubramanian Ramaiah, Ph.D dari Corteva dan Michael Leader dari Bayer Crop Science, menyoroti aspek regulasi dan tantangan komersialisasi produk bioteknologi di kawasan Asia-Pasifik. Keduanya membahas dinamika penerimaan publik, harmonisasi regulasi antar negara, serta peran industri dalam memastikan keamanan ilmiah dan transparansi data. Diskusi tersebut menggambarkan pentingnya kerangka regulasi yang jelas dan adaptif agar inovasi bioteknologi dapat diimplementasikan secara bertanggung jawab dan memberikan dampak nyata bagi sektor pertanian.
Penyelenggaraan konferensi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam riset bioteknologi tanaman, sekaligus membuka ruang diskusi yang konstruktif antara akademisi, lembaga riset, pemerintah, dan industri. Dengan semakin berkembangnya teknologi seperti genome editing dan meningkatnya kebutuhan akan pangan yang lebih sehat, aman, dan tahan terhadap perubahan iklim, kolaborasi internasional menjadi kunci dalam menghadapi tantangan pertanian masa depan.


