Penulis: Nuraini Fitri Aribah
Jatinangor, 8 Juni 2026 — Ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai masih menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian nasional. Menjawab persoalan tersebut, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran mengembangkan teknologi pupuk hayati (biofertilizer) berbasis mikroba untuk meningkatkan produktivitas kedelai pada lahan-lahan terdegradasi.
Riset yang dipimpin Guru Besar Faperta Unpad, Prof. Dr. Ir. Tualar Simarmata, M.S., ini merupakan bagian dari Program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) yang telah berlangsung sejak 2023. Penelitian difokuskan pada pemanfaatan mikroba unggul untuk mendukung pertumbuhan kedelai hitam dan kedelai kuning di lahan dengan tingkat kesuburan rendah.
Menurut Prof. Tualar, pengembangan pupuk hayati menjadi salah satu solusi untuk mengatasi rendahnya produktivitas kedelai sekaligus memperbaiki kualitas lahan pertanian yang mengalami degradasi. “Kedelai bukan hanya komoditas pangan, tetapi juga tanaman yang dapat membantu memulihkan kesehatan tanah. Karena itu, pengembangan teknologi pupuk hayati untuk kedelai memiliki manfaat ganda, yakni meningkatkan produksi sekaligus memperbaiki kualitas lahan,” ujarnya.
Dalam penelitian ini, tim peneliti melakukan isolasi dan seleksi mikrob dari berbagai lingkungan ekstrem, termasuk tanah salin di wilayah pesisir dan tanah masam yang mewakili karakteristik lahan marginal di Indonesia. Mikrob yang memiliki kemampuan bertahan pada kondisi tersebut kemudian diuji untuk mendukung pertumbuhan tanaman kedelai.
Mikrob terpilih diformulasikan menjadi pupuk hayati cair maupun padat menggunakan teknologi enkapsulasi guna meningkatkan daya hidup dan efektivitasnya di lapangan. Selain bakteri penambat nitrogen seperti Bradyrhizobium, penelitian ini juga memanfaatkan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman (Plant Growth Promoting Rhizobacteria atau PGPR) untuk meningkatkan efisiensi pemupukan dan kesehatan tanah.
Tim peneliti juga mengembangkan bioamelioran yang mengkombinasikan biochar, kompos, dan mikroba menguntungkan sebagai upaya mempercepat pemulihan lahan terdegradasi sekaligus meningkatkan kesuburan tanah secara berkelanjutan. Saat ini penelitian telah memasuki tahun ketiga dan berada pada tahap akhir pengujian lapangan. Salah satu lokasi uji coba dilakukan di Kebun Percobaan Ciparanje Unpad. Hasil sementara menunjukkan teknologi tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan kedelai sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Prof. Tualar mengatakan salah satu target utama penelitian adalah meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk nitrogen yang selama ini menjadi komponen penting dalam budidaya kedelai. “Jika teknologi ini berhasil diterapkan secara luas, penggunaan pupuk nitrogen berpotensi ditekan hingga lebih dari 75 persen. Ini bukan hanya mengurangi biaya produksi petani, tetapi juga memberikan manfaat bagi lingkungan,” jelasnya.
Selain menghasilkan berbagai publikasi ilmiah, penelitian ini juga diarahkan untuk menghasilkan paten dan inovasi yang dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat. Menurut Prof. Tualar, peningkatan produktivitas kedelai menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor, mengingat sekitar 80 persen kebutuhan kedelai nasional masih dipenuhi dari luar negeri.
Oleh karena itu, pengembangan teknologi pupuk hayati dan bioamelioran tidak hanya bertujuan meningkatkan hasil panen, tetapi juga mendukung pemulihan lahan terdegradasi serta memperkuat ketahanan pangan nasional. Inovasi berbasis mikrob lokal ini diharapkan dapat menjadi solusi pertanian yang lebih produktif, ramah lingkungan, dan mudah diterapkan petani. Upaya tersebut juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), dan SDG 15 (Life on Land) melalui peningkatan produktivitas pertanian serta pengelolaan sumber daya lahan yang berkelanjutan.






