Penulis: Syifa Djuita Putri

Jatinangor, 05 Juni 2026 — Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran melalui Program Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA) terus mendorong pengembangan komoditas perkebunan berbasis potensi lokal melalui berbagai kegiatan riset inovatif. Salah satu penelitian yang saat ini tengah dikembangkan adalah riset mengenai akselerasi produksi kopi Liberika di Jawa Barat yang dipimpin oleh Yudithia Maxiselly, S.P., M.P., Ph.D., dosen Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Penelitian ini bertujuan menggali potensi, karakteristik, serta strategi budidaya kopi Liberika sebagai salah satu komoditas kopi yang dinilai memiliki prospek besar namun masih belum banyak dikembangkan di Indonesia.

Yudithia mengungkapkan bahwa penelitian ini merupakan kelanjutan dari rangkaian kajian kopi yang sebelumnya berfokus pada tiga spesies utama, yaitu Arabika, Robusta, dan Liberika. Seiring perkembangan penelitian, kopi Liberika menunjukkan potensi yang menarik untuk dikembangkan karena memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan jenis kopi lainnya. Penelitian ini juga berangkat dari temuan bahwa kopi Liberika di Jawa Barat masih tergolong sebagai komoditas yang kurang dikenal, meskipun memiliki sejarah panjang dan tersebar di sejumlah wilayah. “Liberika merupakan salah satu jenis kopi yang masih kurang dikenal dibandingkan Arabika dan Robusta. Padahal tanaman ini memiliki banyak keunggulan, baik dari sisi adaptasi lingkungan maupun produktivitasnya,” ujarnya.

Penelitian diawali dengan kegiatan eksplorasi dan pemetaan sebaran kopi Liberika di berbagai wilayah Jawa Barat. Tim peneliti melakukan survei di sejumlah daerah seperti Sumedang, Kuningan, Sukabumi, Bogor, Bandung, dan wilayah sekitarnya untuk mengidentifikasi keberadaan tanaman Liberika yang selama ini belum banyak terdokumentasikan. Hasil survei menunjukkan bahwa kopi Liberika tersebar di beberapa wilayah dan sebagian besar merupakan tanaman lama yang telah ada sejak masa kolonial, namun belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Temuan ini membuka peluang baru bagi pengembangan komoditas kopi alternatif yang memiliki karakteristik unik dan potensi ekonomi yang menjanjikan.

Selain melakukan pemetaan wilayah, penelitian juga mengkaji karakter morfologi tanaman untuk memperjelas identifikasi berbagai tipe Liberika yang ditemukan di lapangan. Kajian ini dilakukan untuk membedakan karakter antara Liberika dan Ekselsa yang selama ini kerap dianggap sebagai jenis yang sama. Hasil pengamatan menunjukkan adanya variasi morfologi yang cukup jelas, baik pada bentuk tanaman maupun karakter buah, sehingga berpotensi menjadi dasar pengembangan varietas kopi yang lebih spesifik di masa mendatang.

Dari aspek kualitas, penelitian difokuskan pada analisis kandungan nutrisi dan senyawa fitokimia, termasuk kafein, antioksidan, serta komponen bioaktif lainnya yang berpengaruh terhadap mutu kopi. Kajian ini juga dikombinasikan dengan evaluasi berbagai metode budidaya dan pascapanen untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kualitas biji kopi Liberika.

Menurut Yudithia, kopi Liberika memiliki sejumlah keunggulan agronomis yang menjadikannya potensial untuk dikembangkan. Tanaman ini mampu beradaptasi dengan baik pada dataran rendah hingga menengah, relatif tahan terhadap penyakit, memiliki umur produktif yang panjang, serta mampu menghasilkan produksi yang tinggi. Selain itu, Liberika memiliki ukuran biji yang lebih besar dibandingkan Arabika dan Robusta serta dapat berbuah hampir sepanjang tahun. “Liberika dapat menjadi alternatif bagi petani di wilayah yang kurang sesuai untuk budidaya Arabika. Produksinya yang relatif stabil sepanjang tahun juga berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi petani,” jelasnya.

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan, tim peneliti juga mengembangkan inovasi budidaya melalui pemanfaatan limbah kopi sebagai sumber bahan organik. Limbah kulit dan daun kopi diolah kembali menjadi pupuk organik padat maupun cair yang digunakan pada tanaman kopi. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pertumbuhan tanaman, tetapi juga mengurangi akumulasi limbah yang selama ini menjadi salah satu permasalahan dalam industri kopi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi bahan organik berbasis limbah kopi memberikan respons pertumbuhan yang baik pada tanaman Liberika dan Ekselsa. Pemanfaatan limbah kopi sebagai pupuk tidak hanya mendukung peningkatan pertumbuhan tanaman, tetapi juga menjadi salah satu strategi untuk mewujudkan sistem budidaya yang lebih efisien dan ramah lingkungan melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular.

Penelitian ini melibatkan kolaborasi multidisiplin yang terdiri atas dosen Fakultas Pertanian Unpad, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mitra internasional, serta mahasiswa program sarjana dan pascasarjana. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk memperkuat kajian mulai dari aspek budidaya, metabolit tanaman, hingga peluang pengembangan komersial kopi Liberika di masa depan.

Hingga saat ini, penelitian telah menghasilkan publikasi ilmiah mengenai pemetaan sebaran kopi Liberika di Jawa Barat serta berbagai temuan terkait percepatan produksi tanaman. Melalui penerapan teknologi budidaya yang dikembangkan, tanaman Liberika yang umumnya mulai berbuah pada usia sekitar 3,5 tahun dapat dipercepat hingga mulai menghasilkan pada usia sekitar 2,5 tahun. Temuan ini menunjukkan potensi pengembangan Liberika sebagai komoditas perkebunan yang mampu memberikan keuntungan lebih cepat bagi petani tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan.

Kedepannya, hasil penelitian ini diharapkan tidak hanya berhenti pada luaran akademik, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara langsung oleh petani dan pelaku usaha kopi. Selain mendukung diversifikasi komoditas kopi nasional, pengembangan Liberika juga berpotensi menghasilkan produk unggulan berbasis kopi yang mampu meningkatkan nilai tambah sektor perkebunan dan memperkuat daya saing kopi Indonesia.

Penelitian ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan produktivitas pertanian berkelanjutan, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan limbah kopi sebagai bagian dari sistem budidaya sirkular, SDG 13 (Climate Action) melalui penerapan praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan, serta SDG 15 (Life on Land) melalui upaya pelestarian dan pengembangan sumber daya genetik kopi lokal. Melalui pengembangan kopi Liberika, diharapkan tercipta sistem perkebunan yang lebih berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi petani dan masyarakat.

id_IDIndonesian