Berani Curi Start Mengabdi: Kisah Dellpati Al Musawwir Nasution, Mahasiswa Baru Faperta Unpad Menembus Finalis Genera-Z
Penulis: Syifa Djuita Putri
Jatinangor, 10 Juli 2026 – Bagi sebagian mahasiswa, pengabdian kepada masyarakat mungkin baru dimulai ketika memasuki semester akhir. Namun, anggapan tersebut dipatahkan oleh Dellpati Al Musawwir Nasution, mahasiswa angkatan 2025 Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, yang berhasil melangkah hingga babak final Genera-Z, sebuah program yang mendorong generasi muda untuk menciptakan dampak nyata melalui inovasi dan aksi pengabdian.
Di balik pencapaian tersebut, Dellpati menyimpan perjalanan hidup yang tidak selalu mudah. Berasal dari keluarga dengan keterbatasan finansial, ia tumbuh dengan keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalan untuk mengubah keadaan. Semangat itu semakin kuat berkat sosok sang ayah yang menjadi teladan dalam bekerja keras, pantang menyerah, dan selalu mengajarkan pentingnya memberi manfaat bagi orang lain. Nilai-nilai itulah yang kemudian membentuk cara pandangnya sebagai mahasiswa: kesempatan belajar harus diiringi kontribusi nyata bagi masyarakat.
Di tengah padatnya aktivitas sebagai mahasiswa tahun pertama, ia memilih untuk tidak menunggu kesempatan datang. Baginya, menjadi mahasiswa bukan hanya tentang mengejar prestasi akademik, tetapi juga tentang menghadirkan manfaat bagi masyarakat sejak awal perjalanan di perguruan tinggi.
“Pengabdian di tengah masyarakat tidak harus menunggu mahasiswa semester akhir. Kita semua bisa mencuri start dan melesat lebih tinggi. Ada keluarga yang harus dibanggakan, ada orang-orang yang membutuhkan inspirasi untuk tetap bertahan, dan ada sahabat yang selalu mendukung, sehingga kita ingin memberikan yang terbaik,” tuturnya.
Semangat tersebut menjadi bahan bakar utama selama mengikuti Genera-Z. Ia mengaku bahwa persiapan menuju kompetisi tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga komitmen yang tinggi. Mengatur waktu di tengah kesibukan kuliah, mengorbankan waktu istirahat, hingga menjaga konsistensi menjadi bagian dari proses yang harus dijalani.
“Waktu, dedikasi, dan terkadang mengorbankan waktu tidur menjadi bagian dari perjalanan ini. Yang paling penting adalah memiliki mental juara dan mampu mempertahankannya sampai akhir,” ujarnya.
Namun, perjalanan menuju babak final tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar justru datang dari bagaimana menjaga kekompakan tim sekaligus menyeimbangkan tuntutan akademik dengan persiapan kompetisi. Di satu sisi, tugas perkuliahan dan logbook harus tetap diselesaikan, sementara di sisi lain, materi pitching untuk program pengabdian juga harus dipersiapkan secara maksimal.
Dinamika tersebut justru menjadi ruang belajar yang berharga. Selama mengikuti Genera-Z, Dellpati merasakan perkembangan signifikan dalam kemampuan berkomunikasi. Menurutnya, menyampaikan gagasan kepada berbagai pihak membutuhkan cara penyampaian yang jelas, terstruktur, dan tepat sasaran karena setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda-beda.
Lebih dari sekadar kompetisi, Genera-Z mengajarkan bahwa setiap pencapaian besar selalu dibangun melalui proses yang panjang dan penuh perjuangan.
“Hasil besar tidak ditempuh dengan langkah yang kecil begitu saja. Saya juga percaya bahwa kegagalan adalah bagian dari kunci keberhasilan. Semua perjuangan di balik layar akan tetap gelap sampai akhirnya tiba saatnya sorotan datang,” ungkapnya.
Di antara seluruh rangkaian kegiatan, momen yang paling membekas adalah ketika seluruh anggota tim harus menginap bersama untuk menyelesaikan berbagai persiapan menjelang penjurian. Kesempatan mengikuti penjurian di Jakarta sekaligus menjadi pengalaman pertamanya menginap di hotel. Di balik pengalaman tersebut, terdapat perjuangan lain yang tidak banyak diketahui, mulai dari mengurus administrasi hingga berupaya memperoleh dukungan pendanaan perjalanan. Seluruh proses itu menjadi cerita yang mempererat kekompakan tim sekaligus mengajarkan arti kerja keras.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada jajaran Dekanat Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran atas dukungan yang diberikan kepada tim selama mengikuti Genera-Z. Baginya, perhatian tersebut menjadi penyemangat tersendiri, terlebih karena dirinya masih berstatus sebagai mahasiswa angkatan 2025.
Dellpati juga membagikan pesan bagi mahasiswa yang ingin mengikuti Genera-Z pada tahun berikutnya. Menurutnya, langkah pertama adalah membangun tim yang saling melengkapi dan saling mendukung potensi satu sama lain. Selain itu, calon peserta perlu aktif mengikuti perkembangan informasi melalui media sosial resmi Genera-Z, membiasakan diri menjadi problem solver, siap menghadapi dinamika kehidupan di tengah masyarakat, dan yang terpenting memiliki semangat untuk mengabdi dengan sepenuh hati.
Bagi Dellpati, Genera-Z telah membuktikan bahwa kontribusi tidak ditentukan oleh usia ataupun semester. Justru keberanian untuk memulai lebih awal menjadi modal penting dalam menciptakan perubahan yang berdampak.
Semangat tersebut sejalan dengan komitmen Universitas Padjadjaran dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui pengembangan kompetensi mahasiswa di luar ruang kelas, SDG 10 (Reduced Inequalities) melalui pemberdayaan masyarakat yang inklusif, SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui penguatan peran generasi muda dalam pembangunan komunitas, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) yang menekankan pentingnya kolaborasi antara mahasiswa, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Melalui Genera-Z, mahasiswa tidak hanya belajar menjadi akademisi, tetapi juga dipersiapkan menjadi agen perubahan yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.









